secerahpewarna

Belajar dan terus Belajar

Filsafat Islam : Pokok Pemikiran Ibnu Thufail

FILSAFAT ISLAM : POKOK PEMIKIRAN  IBNU THUFAIL

 KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Semesta Alam, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami berkesempatan untuk mengkaji tentang “Ibnu Thufail”

Ibnu Thufail adalah satu diantara sekian banyak filosof Islam yang mampu menghasilkan karya fenomenal yang berbau filosofis-mistis mengenai bagaimana akal pikiran mampu menangkap, merenungkan dan menyimpulkan bahwa segala sesuatu ada yang menggerakan dan penggerak itu tiada lain adalah Tuhan Pencipta Alam Semesta. Pemikiran Islam pada masa itu berada dalam perkembangan yang positif, itu terbukti dengan berkembangnya dunia filsafat islam yang tidak berkutat di daerah timur saja melainkan merambah ke daerah barat tepatnya di daerah Spayol yang salah satu filosofnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn Abd Al-Malik ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Thufail Al-Qaisyi atau dikenal dengan Ibnu Thufail.

Pemikiran Filsafatnya tergambar jelas dalam karya novelnya “Hayy ibnu Yaqzhan” meski akal mendominasi filsafat ketuhanannya dan disebutkan dalam berbagai literature bahwa Hayy ibnu Yaqzhan sebagai reka ulang yang terpengaruhi oleh pemiiran filsafat Ibn Shina, namun karya tersebut mendapat tempat di dunia filsafat sebagai karya pencarian jati diri seorang anak manusia bukan hanya sebagai curahan pemikiran atau khayalan Ibnu Thufail belaka.

Akhirnya, meski penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna, dengan keterbatasan wawasan dan referensi, kami berharap semoga makalah ini dapat berguna bagi semua pihak, terkhusu bagi kami sendiri dan umumnya bagi semua pihak.

BAB I

PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang

Pada zaman pertengahan, Islam di Barat dan Timur telah mencapai puncaknya. Baik dalam pemerintahan maupun ilmu pengetahuan. Tapi Islam di Barat (Spanyol) lebih menjadi perhatian dunia ketika mampu mentranfer khazanah-khazanah Islam di Timur. Dan bahkan mengembangkannya. Filsuf-filsuf yang karya-karya besarnya banyak dikaji dunia, lahir di kota ini. Diantaranya, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ibnu Thufail dikatakan orang berada di suatu tingkat yang ajaib dalam ilmunya, yakni berada dalam tingkat mistik yang penuh kegembiraan. Beberapa orang menganggapnya sebagai orang panteis orang yang menganggap tidak ada beda lagi antara dirinya dengan Tuhan. Anggapan ini ternyata salah. Ia sebenarnya hanya seperti juga Al Ghazali , merasa telah mencapai tingkat ma’rifat yang tinggi seperti katanya: ”Fakana makana mimma lastu adkuruhu. Fadhonnu khoiran wala tasal anil khobari.” (terjadilah sesuatu yang tidak akan disebutkan akan tetapi sangkalah dia sebagai suatu kebaikan juga, dan jangan tanya tentang beritanya)

Ibnu Thufail yang menjadi kajian dalam makalah ini, juga mampu menyihir para cendekiawan dunia dengan karya monumentalnya, Hayy Ibnu Yaqzhan. Salah satu karya yang tersisa dalam sejarah pemikirannya. Risalah atau novel alegori yang bertajuk filosofis-mistis itu, menyita banyak perhatian. Hayy ibnu Yaqzhan adalah refleksi dari pengalaman filosofis-mistis Ibnu Thufail. Dimana karya itu tidak lepas dari penbacaan ulang atau pengaruh dari pemikiran Ibnu Shina. Namun Ibnu Thufail di sini menghadirkan karya yang berbeda.

Melalui kisah “Hayy ibnu Yaqzhan” ini, Ibnu Thufail menunjukkan bahwa dalam mencapai kebenaran, media yang digunakan bukanlah tunggal, akan tetapi banyak dan beragam. Dalam kisah itu, dia menampilkan sebuah novel aligoris yang mengkisahkan seorang bayi yang tedampar di hutan dan di rawat oleh seekor rusa sampai bayi itu dewasa. Tanpa latar belakang sosial budaya, anak itu dapat tumbuh dewasa dengan intelegensi yang tinggi dan mampu mencapai tingkat spiritualitas yang paling tinggi. Sehingga ia mampu menyingkap rahasia dibalik dunia ini dan mencapai titik Musyahadah, akhirnya dapat menemukan kebenaran sejati.

 

B. Tujuan 

Dari sekilas uraian latar belakang di atas, penulisan makalah ini mempunyai tujuan agar diperoleh pengetahuan tentang Ibnu Thufail dan Karya monmentalnya. Dengan dapat memaparkan kisah hayy ibnu yaqzhan, penulis akan mencoba mengekplorasi isi kandungan kisah tersebut serta menganalisis dengan kritis. Dengan demikian akan diharapkan pemahaman yang luas dan mengetahui hikmah dari penulisan novel ini.

C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana latar belakang pemikiran Ibnu Thufail?

2. Bagaimana kisah dan isi kandungan serta analisis terhadap “Hayy ibnu Yaqzhan”?

 BAB II

PEMBAHASAN

 A. Biografi Ibnu Thufail

Nama lengkap Ibnu Thufail ialah Abu Bakar Muhammad ibn Abd Al-Malik ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Thufail Al-Qaisyi, di Barat dikenal dengan abudecer. Ia adalah pemuka pertama dalam pemikiran filosofis mawahhid yang berasal dari Spanyol.Ibnu Thufail lahir pada tahun 506 H/1110 M atau pada Abad VI H/XIII M di kota Guadix, Provinsi Granada. Keturunan Ibnu Thufail termasuk keluarga suku arab yang terkemuka, yaitu suku Qaisy.

Karier Ibnu Thufail bermula sebagai dokter praktik di Granada. karena ketenaran atas jabatan tersebut, maka ia diangkat menjadi Sekretaris Gubenur di Provinsi itu.pada tahun 1154 M (549 H). Ibnu Thufail menjadi sekretaris pribadi gubernur Ceuta dan Tangier, pengusaha muwahhid Spanyol pertama yang merebut Maroko. Dan dia menjabat dokter tinggi dan menjadi qhadi di pengadilan pada kholifah Mawahhid Abu Ya’qub Yusuf (558 H/1163 M-580 H./ 1184 M )

Ibnu Thufail adalah seorang dokter, filosof, ahli matematika dan penyair yang sangat terkenal dari mawahhid spanyol, akan tetapi sedikit karya-karyanya yang di kenal orang. Ibnu Khotib menganggap dua risalah mengenai ilmu pengobatan itu sebagai karyanya. Al Bitruji (muridnya) dan ibnu rusyd percaya bahwa dia memiliki gagasan-gagasan astonomis asli. Al-Bitruji membuat sangkalan atas teori ptolemeos mengenai epicycles dan eccentric cirles, yang dalam kata pengantar dari karyanya kitab Al-Hai’ah dikemukakannya sebagai sumbangan dari gurunya Ibnu Thufail. dengan mengutip perkataan Ibnu Rusyd, Ibn Abi Usaibiah menganggap fi al buqa’Al maskunah wal-ghair Al maskunah sebagai karya Ibnu Thufail, tapi dalam catatan ibnu rusyd sendiri acuan semacam itu tidak dapat ditemukan.Al-Marrakushi, yang ahli sejarah itu mengaku telah melihat naskah asli dari salah satu risalahnya mengenai ilmu keTuhanan. Miquel Casiri ( 1112 H/1710 M -1205 H/1790 M ) menyebutkan dua karya yang masih ada: risalah Hayy ibn Yaqzan dan asrar Al hikmah Al mashariqiyah, yang disebut terakhir ini berbentuk naskah.kata pengantar dari asrar menyebutkan bahwa risalah itu hanya merupakan satu bagian dari risalah Hayy Ibn Yaqzan, yang judul lengkapnya ialah Risalah Hayy Ibn Yaqzan fi Asrar Al hikamat Al mashariqiyah.

B. Perkembangan Filsafat Pada Masa Ibnu Thufail

Pemikiran dan hasil karya para tokoh Islam khususnya dalam bidang filsafat tentunya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-budaya dan politik pada masanya, begitu juga masa-masa sebelumnya. Karena pemikiran merupakan produk budaya dari sebuah masyarakat, dimana seseorang itu hidup, tumbuh dan dibesarkan. Pada massa kekuasaan Umayyah, Abad pertengahan, Islam pernah berjaya di Cordova Spanyol. Waktu itu cordova menjadi salah satu pusat peradaban dunia.

Budaya seni, sastra, filsafat dan ilmu pengetahuan berkembang disana. Tokoh-tokoh besar Islam juga banyak yang lahir di sana. Seperti Ibnu Bajjah, Ibnu Masarrah, Ibnu ‘Arabi, Ibnu Hazm, asy-Syathibi dan sejumlah tokoh lainnya. Mereka ini berhasil menempatkan filsafat sebagai kajian yang berkembang disana. Seperti yang dikatakan Abed al-Jabiri, para tokoh tersebut telah berhasil membangun tradisi nalar kritis yang ditegakkan di atas struktur berfikir demonstratif (nizham al-aql al-burhani). Atau yang kemudian dikenal sebagai “epistemologi burhani”.

Oleh karena itu, sebenarnya tradisi pemikiran filsafat sudah diterapkan sejak dinasti Umayyah berdiri. Tradisi-tradis keilmuan lain, seperti syari’ah, mistis (tasawuf), dan iluminis (Isyraqi) juga terus mengalami pekembangan. Tradisi-tradisi keilmuan seperti inilah yang nantinya mempengaruhi pemikiran Ibnu Thufail. Walaupun perkembangan keilmuan ini mengalami pasang-surut mengikuti kondisi politik pemerintahan yang sedang berkuasa.

Kegiatan intelektual di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan mendapat perhatian penuh pada masa khalifah al-Hakam al-Mustanshir Billah (961-976), putra dari khalifah pertama, Abdurrahman ad-Dakhil. Pada masa ini juga dapat dikatan semaraknya transmisi keilmuan dari Timur ke Barat. Karena setelah pendirian lembaga ilmu pengetahuan tidak cukup menampung murid lagi, para cendikian muslim di Barat berhijrah ke Timur yaitu mulai dari Mesir, syam, Hijaz, hingga ke Baghdad untuk menuntut ilmu.

Al-hakam sangat cinta dengan ilmu pengetahuan, sehingga ia bersedia menanggung biaya untuk tujuan ekspedisi ke berbagai Negara. Itulah yang menjadi faktor utama bagi kegemaran umat Islam untuk menuntut ilmu dan mendalami buku-buku filsafat. Menyangkut hal ini, penulis sejarah filsafat dalam Islam, De Boer berpendapat bahwa peradaban yang dicapai pada masa al-Hakam lebih megah dan lebih produktif daripada yang dicapai oleh dunia Islam Timur.

Seiring berjalannya waktu, sejarah mengatakan tidak selamanya zaman keemasan ini berlangsung hidup. Setelah tampuk kekuasaan digantikan oleh putra al-Hakam, Hisyam al-Mu’ayyid Billah. Karena dia lebih cenderung kepada pengetahuan syari’at dan anti filsafat. Akhirnya kegiatan intelektual pun kembali fakum dan ajaran filsafat kembali dikatan sesat.

Walaupun kondisi sangat tidak mendukung, kegiatan menekuni filsafat dilakukan secara sembunyi. Sampai akhirnya berdirilah dinasti al-Muwahhidin, dimana ketika pemerintahan dipegang oleh Abu Ya’qub Yusuf al-Mansur (558-580 H) filsafat mulai terlihat titik terangnya. Masa inilah Ibnu Thufail hidup dengan menekuni bidang filsafat. Kedekatannya dengan penguasa, bahkan dipercaya sebagai dokter dan penasehat pribadi khalifah, maka kegiatan filsafat mulai diterima kembali. Tapi hanya dalam lingkungan istana atau terbatas pada kaum elit saja.

Masyarakat masih menganggap filsafat sebagai ajaran yang sesat dan bertentangan dengan agama Islam. Dalam situasi yang tidak kondusif inilah Ibnu thufail terus menggali keilmuannya, sehinga lahir karyanya “Hayy ibnu yaqzhan”. Dan dapat disimpulkkan mengapa Ibnu Thufail menggunakan bahasa symbol dalam karyanya tersebut. Dengan bahasa yang sederhana, diharapkan masyarakat akan mudah memahami dan lambat laun menerima filsafat sebagai kajian keilmuan. Bahkan sebagai metode berfikir dan cara pandang hidup.

 BAB III

Karya Besar Ibnu Thufail “Hayy ibn Yaqzhan”

Roman filsafat Hayy ibnu Yaqzhan (si hidup anak si sadar) banyak menyita perhatian para sastrawan dan filsuf Timur dan Barat sejak ditulis oleh Ibnu Thufail pada abad ke-6 H (12 M). Hingga era kebangunan menyeluruh bangsa Arab modern. Naskah roman filsafat hayy ibnu yaqzhan penulis bahas agar juga mendapatkan segenap pemikiran Ibnu Thufail yang terkandung dalam kisah ini.

Hayy ibn Yaqzhan merupakan kisah yang memuat berbagai aspek. Seperti pendidikan, system pengetahuan, filsafat, tasawuf dan sastra. Dari aspek sastra misalnya, karya ini mengandung nilai sastra yang sangat tinggi. Dengan segala bahasa metaforis dan simbolisasi yang kuat dalam kisah ini. Dan tradisi sastra tersebut sudah lama berkembang di dunia Timur lalu berkembang dan berpindah ke bagian Barat dunia Islam dalam satu lintas generasi.

Dan perlu diketahui bahwa subtansi gagasan yang di usung roman ini bukanlah sesuatu yang sama sekali baru yang pernah ditulis. Yang berbeda dari karya ini adalah bagaimana Ibnu Thufail menampilkan gagasan filsafat yang dikemas dalam bentuk sebuah roman. Subtansi gagasannya sendiri adalah perjumpaan manusia dengan “fitrah primordial”nya ditengah alam yang primitif, dan pengembaraan intelektualnya yang mencapai kebenaran puncak tanpa pengaruh sosial sedikitpun.

Dengan judul yang sama, sebenarnya Ibnu Shina juga pernah menggunakan roman ini sebagai ilustrasi perjalanan manusia menuju pengetahuan sejati. Tapi Ibnu Shina menempatkan tokoh hayy sebagai seorang kakek yang bijak dan mempunyai pengetahuan luar bisa. Ibnu Shina juga menulis roman yang bertajuk sama yang berjudul Salman wa Absal, tapi sudah hilang tak terlacak.

Kisah Hayy ibn Yaqzhan dalam Risalah Ibnu Shina, bertujuan untuk menegaskan kekuatan akal dan keutamaannya dari segala yang dimiliki manusia, termasuk naluri instingnya, semua itu tunduk pada akal. Selain itu Ibnu Shina menunjukkan bagaimana hubungannya dan koherensinya antara akal atas sampai bawah dengan teorinya berkembangnya akal sampai sepuluh. Sedangkan dalam karyanya Ibnu Thufail, lebih berkembang dengan tidak hanya mengandalkan akal sebagai pencari pengetahuan sejati, tetapi juga intuisi.

Terkait masalah yang terakhir itu, Aspek filsafat yang banyak dipengaruhi oleh Ibnu Bajjah sebagai pendahulunya dan sebagai seorang filsuf rasionalis murni, juga berperan penting karya Ibnu Thufail ini. Hal itu terlihat ketika Ibn Thufail mengakui pentingnya kesendirian di dalam mengembangkan nalar teoritis. Namun dia tidak puas terhadap peranan akal disitu. Dan dinilai oleh Ibnu Thufail bahwa karya Ibnu Bajjah, Tadhir al-Mutawahhid ini sebagai karya yang kurang sempurna . Inilah yang menjadi salah satu pemacu dalam menulis karya hay ibnu yaqzhan.

Hal lain yang dapat dijadikan latar belakang penulisan hayy ibn yaqzhan yaitu ketidak puasan Ibnu Thufail terhadap jalan yang selama ini ditempuh oleh para sufi, seperti al-Ghazali. Dan menegaskan bahwa metode iluminasi lebih tinggi dan lebih valid dalam mencapai kebenaran sejati. Kalau sedikit berbalik ke dunia timur, dimana seorang filosof yang bernama Suhrawardi juga menempatkan Iluminasi sebagaimana yang paling utama. Walaupun keduanya secara jarak sangat jauh dan tidak pernah ketemu.

Tokoh utama dalam kisah ini adalah hay ibn yaqzhan sendiri. Dimana ia mengambarkan atau perosnifikasi dari akal manusia sebagai instrument memahami alam sekitar. Berangkat dari akal murni ini, hay naik dalam tingkat selanjutnya dalam menguak rahasia alam ini. Yaitu melalui intuisi sebagai alat untuk melihat benda-benda nonmateri yang lebih tinggi derajatnya. Untuk lebih mendalami is kandungan dalam kisah hay ibn yaqzhan ini, perlu membaca ulang dan mengulas dulu isi kisah tersebut. De.ngan analisis dan tinjauan atasnya, akan lebih dipahami hikmah dan kandungannya

Buku filsafat yang berjudul Hayyy ibnu Yaqzhan (“kehidupan anak kesadaran”) karya ini memang sama dengan buah karya ibnu Sina yang diakunya sendiri berisikan kebijaksanaan timur (Orental Wisdom). Kebijaksanaan timur pulalah yang menjadi pokok pikiran Ibnu Thufail dalam buku ini. Seperti diakui Ibnu Thufail, pokok pikiran ini bisa diidentifikasi sebagai tasawuf yang kala itu ditolak oleh kebanyakan filosof muslim termasuk Ibnu Bajjah. Diskursus rasional, menurut para filosof anti tasawuf bertolak belakang dengan pengalaman mistis yang oleh para ahli diyakini bersifat ektra rasional dan tak terperikan.

 

A. Kisah Hayy Ibnu Yaqzhan

Sebelum mengulas tentang kisah ini lebih lanjut, perlu diketahui bahwa kisah hay ibn yaqzhan merupakan uraian terhadap rahasia-rahasia filsafat timur dari Ibnu Shina. Seperti yang diungkapkan dalam muqaddimah, “saudaraku yang mulia dan tulus engkau engkau memintaku untuk memaparkan sedapat mungkin rahasia-rahasia kearifan Filsafat Timur yang pernah diajarkan oleh sang Mahaguru Abu ‘Ali Ibnu Shina” .

Ada dua (2) versi yang menceritakan awal perjalanan Hayy ibn Yaqzhan lahir ke alam dunai.

Versi Pertama :

Menceritakan Hayy dilahirkan oleh seorang saudari raja yang dikawini Yaqzhan secara rahasia. Karena ibu Hayy takut perkawinannya diketahui raja, maka setelah Hayy lahir lalu diamsukkan ke dalam peti dan dihanyutkan ke laut. Kemudian Hayy terdampar pada suatu pulau yang tidak dihuni manusia di kepulauan Hindia yang dilewati khatulistiwa, yaitu pulau Waq-waq.

Versi Kedua

Hayy adalah “anak alam”. Satu kisah menyebutkan Hayy dibuahkan dari suatu pepohonan yang tidak disebutkan jenisnya. Kisah lain menceritakan bahwa Hayy berasal dari tanah yang memerah dari perut bumi, kemudian berproses menjadi seorang bayi.

            Dalam keadaan bayi Hayy dipelihara oleh seekor kijang betina (al-dhabyu) yang anaknya mati, sampai Hayy dapat mengenal lingkungan sekitarnya. Ia dikarunia Allah kecerdasan yang luar biasa. Ia menemukan api, membuat berbagai alat, perkakas dan senjata. Bahkan sanggup mengenal hakikat tertinggi di alam wujud dan alam metafisik, ia dapat mengenal semua itu melalui jalan filsafat. Dan jalan itulah yang mendorongnya berusaha melalui cahaya filosofis untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan. Bersatu-berhubungan-dengan Tuhan adalah pengetahuan sempurna dan kebahagiaan tertinggi yang berkesinambungan dan abadi. Untuk mencapai tujuan itu Hayy berusaha sekuat mungkin memisahkan akal pikirannya dari dunia luar dan dari badannya sendiri dengan jalan merenung memikirkan Zat Tuhan agar dapat berhubungan dengan-Nya tidak hanya itu ia beruasa terus menerus selama 40 hari.

Ada beberapa fase yang dilewati pada perjalanan Hayy ibn Yaqzhan :

Fase Pertama :Hayy dipelihara seekor kijang, hingga ia dapat belajar tindak tanduk dan bahasa hewan sekelilingnya. Ia mulai menutupi tubuhnya, membuat tempat berteduh, dan mempersenjatai dirinya. Bahkan, ia mulai menyimpan bahan makanan untuk persiapan.

Fase Kedua : Kijang yang memeliharanya mati. Hayy berusaha untuk mengetahui penyebab kematian kijang ini dan kematian binatang-binatang yang lainnya. Hasil penyelidikannya menyimpulkan adanya jiwa (roh) yang merupakan daya sentral dan bersifat immateri. Jiwa tersebut berfungsi sebagai penggerak jasad binatang-binatang. Hayy menemukan hal itu setelah melakukan pembedahan terhadap mayat-mayat binatang. Pada tahap ini pula ia mengetahui fungsi anggota badan dan daya yang menggerakannya.

Fase ketiga : Hayy mulai mengetahui api, kegunaan dan sumbernya. Dari pemikirannya tentang itu, ia sampai kepada kesimpulan tentang adanya kausalitas yang menyebabkan adanya tertib alam dan akal budi.

Fase Keempat : Hayy mulai mengetahui kesatuan dan keberagaman pada jasad dan jiwa yang telah diamatinya. Pada tahap ini, ia telah sampai kepada generalisasi dan klasifikasi berdasarkan kesatuan dan keberagaman itu.

Fase Kelima : Hayy melihat ke atas dan memperhatikan benda-benda langit. Dari pengamatannya itu ia mengetahui astronomi. Namun, yang lebih penting lagi, dengan melihat ketertiban dan keteraturan serta pergerakan dan perubahannya, ia memikirkan kesamaan dengan bumi atau makhluk bumi dan menyimpulkan kepastian adanya penggerak tertentu yang sama untuk semuanya.

Fase Keenam : Hayy menegaskan bahwa perbedaan perjalanan antara jasad yang materi dengan jiwa yang immateri, di samping manemukan kepastian adanya penggerak yang disebut wajib al-wujud. Menurutnya asal alam materi itu tidak mungkin materi lagi. Karena jiwa demikian, tentulah ada rangkaian materi yang tidak pernah berujung (tasalsul). Jadi, asal pertama ini haruslah immateri dan wajib al-wujud. Jasad itu berneda perjalanannya dengan jiwa. Jiwa yang immateri itulah yang dapat mengetahui wajib al-wujud, dan selalu tunduk kepada-Nya, dengan begitu jiwa tersebut akan abadi. Sebaliknya, jiwa yang tidak mengenal dan tunduk kepada-Nya akan hancur. Hayy memikirkan hal seperti itu hingga memasuki fase tujuh.

Fase Ketujuh : Hayy berkesimpulan bahwa Tuhan itu pasti baik dan bijaksana, sempurna, penuh rahmat, dan menjadi tujuan setiap manusia. Karena itu, puncak kebahagiaan menurutnya hanya dapat dicapai bila seseorang selalu berhubungan jiwanya dengan Tuhan tanpa henti, selalu merenungkan dan memikirkannya serta melepaskan diri dari dunia materi. Dengan perenungan yang demikian, seseorang akan sampai kepada objek pengetahuan yang paling tinggi, yakni wajib al-wujud tadi, dan itulah puncak yang senantiasa didambakan setiap manusia.

Selanjutnya Hayy terus-menerus menjalaninya, hingga ia merasa sangat mudah untuk mencapainya. Sehingga ia bisa mencapai maqam ekstatisnya kapan pun ia mau dan dapat meninggalkannya sewaktu ia memenuhi kebutuhan fisiknya. Disinilah kesempurnaan pengetahuan sejati didapat. Ia ingin tetap berada dalam maqam yang dicapainya sampai benar-benar tidak merasakan eksistensi dirinya. Ia terus melakukan itu hingga memperoleh pengetahuan tentang esensi dirinya yang tidak lain adalah esensiNya. Semua itu dapat diperoleh hanya melalui penyinaran cahaya dari-Nya.

Hingga akhirnya Hayy bertemu dengan absal seorang ahli tasawuf dari pulau seberang yang sedang mencari hakikat agama dalam perenungan. Setelah akhirnya Hayy dan Absal berteman, keduanya menemukan kecocokan dalam memahami makna hidup. Absal pun semakin yaqin atas aqidah yang selama ini ia pegang teguh. Kisah Hayy Ibn Yaqzan seakan-akan menghidupkan kembali pendapat Mu\’tazilah, bahwa akal manusia begitu kuatnya sehingga ia dapat mengetahui masalah-masalah keagamaan seperti adanya Tuhan, wajibnya manusia berterimakasih kepada Tuhan, kebaikan serta kejahatan dan kewajiban manusia berbuat baik dan mejauhi perbuatan jahat. Dalam hal-hal ini wahyu datang untuk memperkuat akal. Dan akal orang yang terpencil di suatu pulau, jauh dari masyarakat manusia, dapat mencapai kesempurnaan sehingga ia sanggup menerima pancaran ilmu dari Tuhan, seperti yang terdapat dalam falsafat emanasi Al-Farabi dan Ibn Sina. Tapi Ibn Rusydlah (1126-1198 M) yang mengarang buku Tahufut al-Tahafut sebagai jawaban terhadap kritik-kritik Albpg-Ghazali yang ia uraikan dalam Tahafut al-Falasijah.

B. Analisis Terhadap Kisah Hayy ibnu Yaqzhan

1. Tahapan-tahapan Pemikiran dalam Hayy ibn Yaqzhan

Setelah mencoba memaparkan secara ringkas kisah di atas, penulis dapat membaginya dalam tiga tahapan dalam pencarian. Kisah hay ibn yaqzhan yang diawali dengan perkembangan Hayy dalam beradaptasi dengan alam, belajar cara bertahan hidup, hingga dia menemukan api. Hal itu termasuk tahap pertama dalam pencarian ilmu, dengan memahami benda-benda sekitar dan mengetahui fungsinya.

Tahapan ini dapat disebut dengan tahap pengetahuan empiris. Dimana pengetahuannya masih terbatas dengan hal-hal yang terinderakan saja dengan pengamatan yang sederhana. Dari apa yang diperolehnya itu, dia semakin berusaha meningkatkan pengetahuannya. Memori-memori dari pengalaman pertamanya muncul seketika dia memahami fungsi dan kegunaan api. Dia mampu mengingat kesan pengalamannya lalu mengkorelasikan dengan pengalaman baru yang didapat.

Hayy meneruskan pengamatannya pada semua jenis binatang, tumbuhan, bebatuhan, tanah, air dan segalanya yang ada di alam bawah dengan segala sifat dan atributnya. Tidak hanya itu, dia juga mengamati benda-benda angkasa denga segala siklus yang dimilikinya. Hal tersebut menunjukkan adanya metode-metode berfikir yang digunakan, yaitu metode eskperimentasi dengan komparasi sehingga menghasilkan kesimpulan-kesimpulan deduktif.

Di sini terlihat rasionalitas pemikiran filsafat Ibnu Thufail yang sangat kental. Hal itu tentunya tidak lepas dai pengaruh Ibnu Bajjah sebagai filsuf rasional murni. Pengetahuannya tentang alam dengan segala keberagamannya, pengetahuan tentang binatang dengan segala spesiesnya, tentang angkasa dan sebagainya. Membuat ia dapat kesimpulan bahwa semua itu ada sebabnya, yang mengaturnya dan ada Wujud lain dibalik semua fenomena itu.

Inilah tahadapan kedua dari pemikiran Ibnu Thufail yaitu tahapan pemikiran filsafat rasionalis . Dari wilayah empiris lalu bergerak pada sesuatu yang tidak berbau materi. Pada tahapan ini dia mendalami pencariannya dengan kontemplasi. Pemikirannya pada wilayah ini terlihat juga ketika dia telah memahami bahwa alam ini ada permulaannya, alam ini adalah sesuatuyang baru. Maka dari itu ada suatu proses dari ada menjadi tiada. Proses itu memerlukan subyek yang sama sekali diluar sifat yang diadakan.

Tahapan terakhir dari perjalanan intelektual Ibnu Thufail dalam kisah Hayy Ibn Yaqzhan adalah tahapan tasawuf mistis melalui jalan intuitif. Hal ini dapat dilihat dari pencapaiannya ke titik penyaksian. Pencapaiannya dalam maqam tertinggi dimana ia mendapatkan pengetahuan sejati. Kisah Hayy ibn yaqzhan sampai disini mewakili pemikirannya tentang jalan mencari kebenaran tidak cukup sampai pada pengetahuan teoritik dan penalaran rasio atau akal saja. Sebagaimana ia tidak puas terhadap hasil pemikiran Ibnu Bajjah yang hanya berhenti disitu.

Maka hal itu sesuai dengan pendapatnya,”manusia tidak akan pernah bisa mencapai derajat tertinggi ini, kecuali apabila ia senantiasa memikirkan dzat-Nya, serta membebaskan diri dari segala pikiran tentang segala sesuatu yang bersifat indrawi”. Derajat inilah yang disebut olehnya sebagai derajatnya para sufi. Selain itu, ini sebagai hasil ikhtiarnya dalam mendamaikan dua aliran pemikiran yang sering dipertentangkan, yaitu pemikiran falsafah dan pemikiran sufi. Dua aliran utama itu menggunakan metode berbeda dalam mencapai kebenaran, tetapi ternyata keduanya dapat dipertemuka kembali. .

Mengenai pemikiran iluminasi Ibnu Thufail direfleksikan ketika Hayy mengetahui adanya kesamaan esensi antara dirinya, benda-benda alam sekitar dan benda yang ada di langit. Esensi-esensi dipancarkan oleh satu esensi sejati yang tak terbatas. Karena ketak terbatasan-Nya itu, Dia memanivestasikannya pada semua yang beragam ini. Tentunya dengan jalan emanasi cahaya, dimana cahaya tertinggi tidak dapat dilihat kecuali dalam keadaan bersih dan suci.

 2. Harmonisasi Agama dan Filsafat

Dalam karya Ibnu Thufail “Hayy Ibnu Yaqzhan” juga terdapat pemikirannya, dimana ia ingin menunjukkan adanya harmonisasi antara agama dan filsafat intuitifnya. Dua disiplin yang sering kali dipertentangkan oleh para sarjana hingga kini. Penjelasan diatas dapat dipahami ketika Hayy ibn Yaqzhan bertemu dengan Absal, orang yang beragama dan ingin memahami agama dalam makna esoterisnya.

Dalam kehidupan Absal sebelumnya, dia melihat agama yang dijalankan masyarakat hanya dalam taraf ritual formal belaka. Dan hanya ditujukan agar kehidupan mereka didunia lebih baik. Dengan bertemu Hayy, Absal mempunyai keyakinan kuat bahwa agama juga harus dipahami sebagaimana ta’wil nya. Agar masyarakat tidak terjebak dalam kecintaan duniawi.

Begitu penting pemahaman antara keduanya. Filsafat merupakan suatu pemahaman akal secara murni atas kebenaran dalam kosep-konsep dan imajinasi yang sesungguhnya, serta tak dapat dijangkau oleh cara-cara pengungkapan konvensional. Agama melukiskan dunia atas dengan lambang-labang eksoteris. Dia penuh dengan perbandingan, persamaan, dan gagasan-gagasan antropomorfis, sehingga akan lebih mudah difahami oleh orang lain, mengisi jiwa dengan hasrat dan menarik mereka kepada kebajikan dan moralitas.

Filsafat yang menggunakan persepsi rasa, nalar, dan intuisi sebagai dasar-dasarnya, dapat menafsirkan lambang-lambang agama tentang konsep-konsep imajinasi murni yang berpuncak pada suatu keadaan yang didalamnya terdapat esensi ketuhanan dan pengetahuannya menjadi satu.

Seperti pendapat Sohier el-Kalamawy dan Mahmoud Ali Kahky (1986) bahwa Ibnu Thufail bertujuan perenungan yang murni rasional dan iman yang sejati merupakan sisi dari sebuah mata uang yang sama, dan keduanya dapat membawa manusia dekat dengan Tuhan dan bersatu secara mistikal dengannya. Oleh karena itu keduanya harus dipelajari dan dipahami secara bersamaan.

 BAB IV

Ajaran Filsafat Ibnu Thufail

1. Tentang Dunia.

Salah satu masalah filsafat adalah apakah dunia itu kekal, atau diciptakan oleh Tuhan dari ketiadaan atas kehendak-Nya? dalam filsafat muslim, Ibnu Thufail, sejalan dengan kemahiran dialektisnya, menghadapi masalah itu dengan tepat sebagaimana kant.tidak seperti pendahulunya, tidak menganut salah satu doktrin saingannyapun dia tidak berusaha mendamaikan mereka.di lain pihak, dia mengecam dengan pedas para pengikut aristoteles dan sikap-sikap teologis. Kekekalan dunia melibatkan konsep eksistensi tak terbatas yang tak kurang mustahilnya dibandingkan gagasan tentang rentangan tak terbatas.

Eksistensi seperti itu tidak lepas dari kejadian-kejadian yang diciptakan dan karena itu tidak dapat mendahului mereka dalam hal waktu, dan yang tidak dapat sebelum kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun. begitu pula konsep Creatio Ex Nihilo tidak dapat mempertahankan penelitiannya yang seksama. Al-Ghazali, mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidak maujudan tidak dapat dipahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, tapi waktu itu sendiri merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan karena itu kemaujudan dunia di kesampingkan.lagi, segala yang tercipta pasti membutuhkan pencipta. Kalau begitu mengapa sang pencipta menciptakan dunia saat itu bukan sebelumnya? apakah hal itu dikarenakan oleh suatu yang terjadi atas-Nya? tentu saja tidak, sebab tiada sesuatupun sebelum dia untuk membuat sesuatu terjadi atas-nya.apakah hal itu mesti bersumber dari suatu perubahan yang terjadi atas sifat-nya? tapi adakah yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut?
Karena itu Ibnu Thufail menerima baik pandangan mengenai kekekalan maupun penciptaan sementara dunia ini.

2. Tentang Tuhan.

Penciptaan dunia yang berlangsung lambat laun itu mensyaratkan adanya satu pencipta, sebab dunia tidak bisa maujud dengan sendirinya. juga sang pencipta bersifat immaterial, sebab materi yang merupakan suatu kejadian dunia di ciptakan oleh satu pencipta. di pihak lain, anggapan bahwa Tuhan bersifat material akan membaca suatu kemunduran yang tiada akhir yang adalah musykil. oleh karena itu dunia ini pasti mempunyai penciptanya yang tidak berwujud benda.dan karena dia bersifat immaterial, maka kita tidak dapat mengenalinya lewat indra kita ataupun lewat imajinasi, sebab imajinisasi hanya menggambarkan hal-hal di tangkap oleh indra.

Kekekalan dunia berarti kekekalan geraknya juga, dan gerak sebagaimana di katakan oleh aristoteles, membutuhkan penggerak atau penyebab efesien dari gerak itu.jika penyebab efesien ini berupa sebuah benda, maka kekuatannya tentu terbatas dan karenanya tidak mampu menghasilkan suatu pengaruh yang tak terbatas.oleh sebab itu penyebab efesien dari gerak kekal harus bersifat immaterial. ia tidak boleh di hubungkan dengan materi ataupun di pisahkan darinya, ada di dalam materi itu atau tanpa materi itu, sebab penyatuan dan pemisahan, keterkandungan atau keterlepasan merupakan tanda-tanda material, sedang penyebab efesien itu, sesungguhnya lepas dari itu semua.

3. Tentang Kosmologi Cahaya.

Ibnu Thufail menerima prinsip bahwa dari satu tidak ada lagi apa-apa kecuali satu itu. Manivestasi kemajemukan, kemaujudan dari yang satu dijelaskannya dalam gaya new platonik yang monoton, sebagai tahap-tahap berurutan pemancaran yang berasal dari caHayya Tuhan. Proses itu pada prinsipnya, sama dengan refleksi terus menerus caHayya matahari kepada cermin. CaHayya matahari yang jatuh pada cermin yang dari sana menuju ke yang lain dan seterusnya, menunjukkkan kemajemukan . semua itu merupakan pantulan matahari dan bukan matahari itu sendiri, juga bukan cermin itu sendiri, bukan pula suatu yang lain dari matahari dan cermin itu.

Kemajemukan caHayya yang dipantulkan itu hilang menyatu dengan matahari kalau kita pandang sumber caHayya itu, tapi timbul lagi bila kita lihat dicermin, yang disitu caHayya tersebut dipantulkan. Hal yang sama juga berlaku pada caHayya pertama serta perwujudannya didalam kosmos.

4. Epistimologi Pengetahuan.

Tahap pertama jiwa bukanlah suatu tabularasa atau papan tulis kosong, imaji Tuhan telah tersirat di dalamnya sejak awal, tapi untuk menjadikannya tampak nyata, kita perlu memulai dengan pikiran yang jernih tanpa prasangka keterlepasan dari prasangka dan kecenderungan sosial sebagai kondisi awal semua pengetahuan, merupakan gagasan sesungguhnya dibalik kelahiran tiba-tiba Hayy di pulau kosong. Setelah hal ini tercapai pengalaman, inteleksi dan ekstasi memainkan dengan bebas peranan mereka secara berurutan dalam memberikan visi yang jernih tentang kebenaran yang melekat pada jiwa. Bukan hanya disiplin jiwa, tapi pendidikan indra dan akal yang diperlukan untuk mendapatkan visi semacam itu. Kesesuaian antara pengalaman dan nalar, disatu pihak, dan kesesuaan antara nalar dan intuisi, dipihak lain membentuk esensi epistimologi Ibnu Thufail.

Setelah mendidik akal dan indra serta memperhatikan keterbatasan keduanya, Ibnu Thufail akhirnya berpaling kepada disiplin jiwa yang membawa kepada ekstasi, sumber tertinggi pengetahuan. Dalam taraf ini, kebenaran tidak lagi dicapai lewat proses deduksi atau induksi, tapi dapat dilihat secara langsung dan intiutif lewat caHayya yang ada didalamnya. Jiwa menjadi sadar diri dan mengalami apa yang tak pernah dilihat mata atau didengar telinga atau dirasa hati orang manapun. Tarap ekstasi tak terkatakan atau terlukiskan sebab lingkup kata-kata terbatas pada apa yang dapat dilihat, didengar atau dirasa. Esensi Tuhan yang merupakan caHayya suci hanya bisa dilihat lewat caHayya didalam esensi itu sendiri yang masuk dalam esensi itu lewat pendidikan yang tepat atas indra, akal serta jiwa. Karena itu pengetahuan esensi merupakan esensi itu sendiri.esensi dan visinya adalah sama.

BAB V

PENUTUP

 Dari rangkaian penjelasan di atas, akhirnya dapat disimpulkan bahwa Karya Hayy Ibn Yaqzhan adalah karya alegori falsafah bercorak kesufian atau alegori sufi bercorak falsafah. Karya ini merupakan refleksi perjalanan intelektual dan spiritualitasnya. Dan merupakan hasil penafsiran kritisnya terhadap apa yang di tulis Ibnu Shina, sebagaimana dijelaskan dalam muqaddimah. Tapi Ibnu Thufail tidak kehilangan orisinalitasnya dan mampu membuat pokok pemikiran yang berbeda.

Ibnu Thufail dengan Karyanya alegorisnya, Hayy Ibn Yaqzhan, sebenarnya ingin membangun sebuah struktur pengetahuan yang lebih dari yang telah dirintis oleh Ibnu Bajjah melalui teori penyatuannya. Ibnu Thufail bahkan telah berhasil menempuh jalan itu. Setelah menelaah karyanya itu, penulis dapatkan struktur filsafat Ibnu Thufail dibangun di atas dua model pengetahuan sekaligus, yaitu pengetahuan diskursif yang dibangun di atas dasar rasio (al-‘aql) dan pengetahuan intuitif mistis(kasyfiyyah-dzauqiyyah) yang didasarkan pada ketajaman intuisi. Struktur inilah yang disebut oleh Ibnu Thufail sebagai rahasia-rahasia filsafat Timur.

Berkat kepiawaiannya dalam menghadirkan suatu novel dengan bahasa yang sederhana namun mempunyai nilai sastra yang tinggi, Ibnu Thufail sebagai filosof, sastara maupun agamawan disegani oleh para pemikir dan sastrawan dunia yang terilhami oleh karyanya. Karya itu sampai sekarang masih menarik untuk digali dan dikaji. Karena banyak aspek-aspek yang terkandung didalamnya, seperti falsafah, sastra, tasawuf dan masih banyak lagi. Yang tidak dapat penulis tela’ah semua. Oleh karena itu sebagai akademisi kita harus terus mengkaji khazanah pemikiran Islam yang juga terdapat pada sastrawan atau filosof lain selain Ibnu Thufail.

 DAFTAR PUSTAKA

1. Hanafi. Pengantar Filsafat Islam, 1969. Jakarta,

2. Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam, 1999. Gaya Media Pratama : Jakarta

3. Bagir , Haidar, Buku Saku Filsafat Islam, 2005. PT. Mizan Pustaka : Bandung  2005

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: