secerahpewarna

Belajar dan terus Belajar

Filsafat Hellenisme

PENDAHULUAN

Kata filsafat atau falsafat berasal dari bahasa Arab falsafah yang diturunkan dari kata Yunani philosophia yang merupakan kata gabungan dari kata philein yang berarti mencintai atau philia yang berarti cinta dan kata sophia yang berarti kebijaksanaan. Dengan demikian kata philosophia, falsafat berarti mencintai atau cinta kepada kebijaksanaan.

Dari segi praktis, falsafat berarti alam pikiran atau alam berfikir. Berfilsafat artinya berfikir. Namun tidak semua berfikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berfikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa setiap manusia adalah filosuf. Semboyan ini benar juga sebab semua manusia berfikir. Akan tetapi, secara umum semboyan itu tidak benar sebab tidak semua manusia yang berfikir adalah filosof. Tegasnya filsafat adalah hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain filsafat adalah ilmu yang berusaha mempelajari suatu sampai ke akar-akarnya, sistematika dan menyeluruh sehingga mendapatkan hakikat kebenaran dari sesuatu itu.

Pemikiran Filsafat mengalami perkembangan yang sangat pesat dan cepat menyebar ke berbagai wilayah dengan periode yang berbeda-beda seperti Filasafat Yunani, Filsafat Klasik, Filsafat Islam, sampai pada Filsafat Modrn yang banyak ragam pemikirannya. Periode-periode tersebut mempunyai cirri dan corak masing-masing meskipun secara umum dari periode satu ke yang lainnya ada pemikiran yang bersentuhan. Di dalam Periode tersebut terdapat periode Hellenistik atau Hellenisme yang juga mempunyai cara pandang yang khas atau corak yang khusus.

 FILSAFAT HELLENISME

Pengertian Hellenisme

Helenis atau Helenisasi, istilah ini berasal dari kata Yunani Helen (Istilah yang dipakai oleh orang Yunani untuk menyebutkan etnik mereka). Helenis juga adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan perubahan kultural di mana sesuatu yang bersifat bukan Yunani menjadi Yunani (peradaban Helenistik). Prosesnya ada yang bersifat sukarela, serta ada pula dengan penggunaan kekuatan. Iskandar/Aleksander Agung menyebarkan wawasan peradaban Yunani, termasuk di dalamnya bahasa. Hasilnya adalah, beberapa unsur yang berasal dari Yunani digabung dalam bentuk yang bervariasi dengan unsur lain dari peradaban daerah yang dikuasai, yang dikenal dengan Helenisme.

Filsafat helenisme berasal dari filsafat hellens (nama orang) termasuk kaum zabaniyah, yang mencari kebenaran melalui akal. Filsafat Hellenisme menurut pengertian etika adalah “Manusia hendaknya mengikuti saja suratan takdir dan penentuan alam baginya. Dengan demikian, ia akan mencapai harmoni dengan alam yang akan membawanya kepada kebahagiaan (eudaimonia). Jadi, hukum alam harus ditaati terlepas dari perasaan senang atau tidak, menguntungkan atau merugikan, mengenakkan atau menjengkelkan. Soalnya bagi Zenon, kebahagiaan terletak dalam tekad keras menjalankan kewajiban demi hukum alam yang objektif, bukan demi perasaan atau selera subjektif orang perorang.

Sebelum lahirnya filsafat islam baik didunia timur maupun dunia barat telah terdapat bermacam-macam alam pikiran, diantaranya yang terkanal ialah pikiran mesir kuno, pikiran sumeria, babilonia, dan assurya, pikiran iran, pikiran india, pikiran cina dan pikiran yunani. Boleh jadi, pikiran-pikiran iran dan india sedikit banyak telah memberikan sumbangan pada pembentukan filsafat islam, tetapi yang tampak jelas sekali hubungannya, bahkan menjadi sumber(bukan sumber utama) bagi filsafat islam ialah filsafat yunani.

Filsafat yunani yang sampai kepada dunia islam tidaklah seperti yang ditinggalkan oleh orang-orang yunani sendiri, baik melalui orang-orang Masehi Nestoria dan Jakobites maupun melalui golongan-golongan lainnya. Akan tetapi filsafat sampai kapada mereka melalui pemikiran Hellenisme Romawi yang mempunyai cirri khas tertentu yang m,empengaruhi filsafat itu sendiri. Oleh karena itu tidak semua pikiran-pikiran filsafat yang sampai pada dunia Islam berasal dari Yunai, baik dalam teks-teks aslinya maupun dalam ulasan-ulasannya, melainkan hasil dari dua fase yang berturut-turut, yaitu “Fase Hellenisme” dan “Fase Hellenisme Romawi”. Oleh karena itu, dalam pikiran filsafat terdapat dua coprak yang berbeda atau dua corak yang bercampur, sesuai dengan perbedaan alam pikiran pada dua masa yang membicarakannya.

Fase Hellenisme ialah ketika pemikiran filsafat hanya dimiliki oleh orang-orang Yunani, yaitu sejak abad ke-6 atau ke-5 SM sampai akhir abad ke-4 SM. Adapun Fase Hellenisme Romawi (Greko Romawi) ialah fase yang datang sesudah fase Hellenisme, dan meliputi semua pemikiran filsafat yang ada pada masa kerajaan romawi, yang ikut serta membicaraan peningggalan Yunani, antara lain pemikiran Romawi di Barat dan pemikiran di Timur yang ada di Mesir dan Siria. Fase ini dimulai dari akhir abad ke-4 SM sampai pertengahan abad ke-7 M di Iskandariah, atau sampai abad ke-8 M di Siria dan Irak, yaitu aliran Urfa, Ar-Ruha, Nissibis, dan Antiochia, atau sampai pada masa penerjemahan di dunia Arab.

Karakteristik Hellenisme

Filsafat Yunani bukanlah hasil ciptaan filosof-filosof Yunani semata-mata, tetapi lebih tepat dikatakan sebagai saingan (pilihan) dari kebudayaan Yunani sebelum masa berfilsafat, karena filsafat di Yunani mula-mula dimaksudkan untuk melepaskan diri dari kekuasaan golongan-golongan Agama bersahaja dengan jalan menguji ajaran-ajarannya. Apa yang dapat dibenarkan oleh akal pikiran dinamakan filsafat, dan apa yang tidak dapat diterima oleh akal pikiran dimasukkan dalam “cerita-cerita Agama”. Karena itu dalam filsafat Yunani terdapat unsur-unsur Agama bersahaja (Agama-Agama berhala), antara lain kepercayaan tentang adanya banyak zat yang membekasi alam dan yang menjadi sumber segala peristiwanya, meskipun dalam bentuk yang berbeda dengan apa yang ada pada Agama Yunani sendiri, karena zat yang berbilang dalam Agama itu dinamakan ‘dewa-dewa’, sedang dalam filsafat disebut ‘akal benda-benda langit’, sebagaimana yang kita lihat antara ‘akal bulan’ dengan ‘akal manusia’. Menurut filsafat Yunani bukan hanya sebab yang pertama (first cause) yang mempengaruhi alam, tetapi juga ada kekuatan-kekuatan lain yang ikut serta mempengaruhinya yaitu akal-akal yang menggerakkan benda-benda langit.

Demikian pula “Api Heractilus” yang dianggap sebagai asal kejadian alam, boleh jadi karena pengaruh pemujaan api yang dikenal oleh Agama-Agama Iran pada umumnya dan yang sampai di Yunani sesudah adanya pertemuan antara barat dengan timur.

Ciri kedua dari pemikiran filsafat Yunani ialah ketidak-selarasan, karena filsafat ini mula-mula terdiri dari bermacam-macam soal yang tidak selaras. Sampaipun orang-orang yang mempunyai pemikiran filsafat yang sistematis, seperti Plato dan Aristoteles, juga tidak terhindar dari ketidak-selarasan ini dalam pemikirannya. Karena dalam menguraikan sesuatu persoalan filsafat, mereka masih terpengaruh oleh pikiran-pikiran orang sebelumnya, dengan segala macam perbedaannya dan yang mengandung ketidak-selarasan pula. Sedang sistem filsafat mereka tidak lain hanyalah merupakan usaha secara luas untuk mencakup segala hasil pemikiran filsafat yang telah ada.

“Teori ide” dari Plato misalnya merupakan usaha pemaduan antara dua pemikiran yang berlawanan. Heraclitus dan pengikut-pengikutnya mengatakan bahwa segala sesuatu selalu berubah (perpetual flux, panta rhei) dan pendapat ini telah dirubah oleh Pythagoras tokoh aliran “Sofisme”, menjadi ajaran yang mengatakan bahwa “Perorangan menjadi ukuran segala sesuatu” (man  is the measure of all things). Kebalikan dari Heraclitus ialah Parmenides, terkenal dengan sebutan ajaran aliran “Elea”, yang mengatakan bahwa semua wujud ini satu, tidak ada yang banyak; yang satu tersebut tetap, dan dalam alam ini  tidak ada perubahan. Kedua pendapat yang berlawanan ini dipadukan oleh Plato dengan mengatakan adanya dua alam, yaitu “alam yang nyata’ (real) dan “alam indrawi” (sensible).

Pembagian Aristoteles terhadap wujud menjadi form dan matter merupakan bentuk lain dari cara penggabungan terhadap pendapat-pendapat Heraclitus dan Parmenides. Seperti halnya dengan Plato, Aristoteles mengatakan bahwa hanya zat yang ada dengan sendirinya dan tidak berubah-ubah (necessary and unchangeable) itulah yang bisa menjadi obyek pengetahuan. “Alam indrawi” (sensible things) mendatang kemudian dan bisa berubah-ubah, dan oleh karena itu bisa ada dan bisa tidak ada (to be and not to be possible both to be and not to be). Hanya zat yang bukan indrawi (non sensible) yang menjadi objek pikiran kita dapat tidak berubah,  dan tiap-tiap kejadian memerlukan adanya zat  yang tidak dijadikan (that all change presupposes an unchangeable and every becoming something that has not become).

Meskipun Plato dan Aristoteles telah berhasil memadukan pikiran-pikiran filsafat yang sebelumnya, namun keduanya tidak dapat melarutkannya sama sekali, karena pikiran-pikiran filsafat tersebut adalah pemikiran bermacam-macam aliran yang boleh jadi berbeda-beda pandangannya terhadap hidup dan alam ini. Aliran-aliran ini adalah:

  1. Aliran tabii (natural philosophy) dengan Democritus sebagai tokohnya dan filosofi-filosoflonia, yang menghargai alam dan wujud benda setinggi-tingginya. Karena itu menurut aliran ini alam itu abadi.
  2. Aliran ketuhana yang mengakui zat-zat yang metafisik, diwakili oleh aliran Elea dan Socrates, yang mengatakan bahwa sumber alam indrawi adalah sesuatu yang berada diluarnya.
  3. Aliran mistik dan Pythagoras sebagai tokohnya, yang bermaksud memperkecil atau mengingkari nilai alam indrawi, dan oleh karena itu aliran ini menganjurkan kepada manusia untuk meninggalkannya, serta menuju kepada alam yang penuh kesempurnaan, kebahagiaan dan kebebasan mutlak, sesudah terikat oleh benda alam ini.
  4. Aliran kemanusiaan yang menghargai manusia setinggi-tingginya dan mengakui kesanggupannya untuk mencapai pengetahuan, serta menganggap manusia sebagai ukuran kebenaran. Aliran ini diwakili oleh Socrates dan golongan “sofis” meskipun ada perbedaan antara dia dengan mereka.

Aliran-aliran filsafat tersebut sudah barang tentu mempengaruhi hasil pemikiran filosof-filosof  yang datang kemudian, bagaimanapun kuat dan besarnya filosof-filosof tersebut. Plato meskipun mengakui adanya Tuhan, tetapi tidak jelas pendapatnya tentang alam, qadim-kah atau hadis. Ia lebih condong kepada tasawuf, namun ia terkenal sebagai pencipta “teori universalitas” (kulliyat) dan logika seperti yang terlihat dalam bukunya yang berjudul Euthydemus dan Gorgias, sedang tasawuf berdasarkan mata hati”, dan logika berdasarkan pikiran.

Aristoteles adalah seorang monoisme, yang mengakui keesaan sumber alam semesta, yaitu Zat yang wajibul-wujud. Tetapi dalam pada itu ia membenarkan azali-nya alam keabadian jiwa, hal mana menyebabkan adanya pluralitas (bilangan) pada alam yang qadim. Ia mengarang buku Organon yang mengatur cara berpikir dan menciptakan adanya pengaruh akal bulan, sebagai benda langit yang terdekat dengan bumi, pada akal manusia. Meskipun Aristoteles telah lebih mampu dalam mempertemukan aliran-aliran filsafat yang hidup sebelum dia, namun hasil pemikirannya masih menunjukkan adanya ketidakselarasannya.

Ketidakselarasan ini menyebabkan adanya perbedaan yang agak jauh antara Plato dengan Aristoteles sendiri, meskipun ada usaha-usaha dari al Faribi dalam bukunya al Jam’u baina Sa’jai al Hakimain (Pemanduan pikiran-pikiran kedua filosof) untuk menghapuskan perbedaan-perbedaan itu, atau dengan mengatakan bahwa sebagai pendapatnya dikeluarkan pada masa-masa tertentu dan pendapat-pendapat lain dikeluarkan pada masa sesudahnya atau sebelumnya.

Akan tetapi bagi mereka yang mengetahui ciri-ciri khas pemikiran Yunani, sebagai pemikiran yang dipengaruhi oleh berbagai faktor atau aliran filsafat yang tidak seirama satu sama lain, maka tidak perlu  mengadakan pemaduan tersebut.

Karakteristik Hellenisme Romawi

Meskipun keseluruhan masa Hellenisme Romawi mempunyai corak yang sama, namun apabila mengingat perkembangannya, maka dapat dibagi menjadi tiga masa, dimana tiap-tiap masa mempunyai corak tersendiri.

Masa pertama, masa pertama dimulai dari empat abad sebelum masehi sampai pertengahan abad pertama sebelum masehi. Aliran-aliran yang terdapat didalamnya ialah:

  1. Aliran Stoa (ar-Riwaqiyyah) dengan Zeno sebagai pendirinya. Ia mengajarkan agar manusia jangan sampai bisa digerakkan oleh kegembiraan atau kesedihan (jadi tahan diri dalam menghadapinya) dan menyerahkan diri tanpa syarat kepada suatu keharusan yang tidak bisa ditolak dan yang menguasai segala sesuatu.
  2. Aliran Epicure, dengan Epicurus sebagai pendirinya. Aliran ini mengajarkan bahwa kebahagiaan manusia merupakan tujuan utama.
  3. Aliran Skeptis (ragu-ragu) yang meliputi “aliran Phyro” dan “aliran akademi Baru” aliran skeptis mengajarkan bahwa untuk sampai kepada kebenaran, kita harus percaya dulu bahwa segala sesuatu itu tidak benar, kecuali sesudah dapat dibuktikan kebenarannya. Ajaran lain ialah bahwa pengetahuan manusia tidak akan sampai kepada kebenaran, atau dengan perkataan lain mengingkari kebenaran mutlak (obyektif).
  4. Aliran elektika-pertama (aliran seleksi).

Masa kedua ini dimulai dari pertengahan abad pertama sebelum masehi sampai pertengahan abad ketiga masehi. Corak pemikiran pada masa ini ialah seleksi dan penggabungan, yaitu memilih beberapa pikiran filsafat kuno dan menggabungkan pikiran-pikiran itu satu sama lain, atau menggabungkan pikiran-pikiran itu di satu pihak dengan ketentuan Agama dan tasawuf timur di lain pihak. Masa ini terkenal dengan adanya ulasan ilmiah terhadap kerja-kerja filosof-filosof Yunani. Aliran yang terdapat pada masa ini ialah; 1) aliran peripatetic terakhir, 2) aliran Stoa baru; 3) aliran epicure baru; 4) aliran Pythagoras, dan 5) aliran filsafat Yahudi dan Plato.

Filsafat Hellenisme Yahudi ialah suatu pemikiran filsafat, di mana filsafat Yahudi dipertemukan dengan kepercayaan Yahudi, dengan jalan penggabungan atau mendekatkan salah satunya kepada lain, atau membuat susunan baru yang mengandung kedua unsur tersebut.

Masa ketiga ini dimulai dari abad ketiga Masehi sampai pertengahan abad keenam masehi di Bizantium dan Roma, atau sampai pertengahan abad ketujuh atau kedelapan di Iskandariah dan Timur dekat (Asia Kecil). Pada masa ketiga ini kita mengenal aliran-aliran 1) Neo platonisme; 2) iskandariah; 3) filsafat di asia kecil, yang terdapat di antiochia, harran, ar ruha dan nissibis. Aliran-aliran ini merupakan kegiatan terakhir menjelang timbulnya ‘aliran Bagdad” yaitu aliran filsafat Islam.

Aliran Iskandariah mempunyai corak tersendiri yang lain dari aliran Neo Platonisme, meskipun kedua aliran tersebut memberikan ulasan-ulasan terhadapnya. Perhatian aliran Iskandariah lebih banyak ditujukan kepada lapangan eksakta, seperti matematika, fisika, dari pada kepada lapangan metafisika, bahkan dengan berlalunya masa maka soal-soal metafisika ditinggalkan sama sekali.

Tokoh-tokoh aliran Iskandariah ialah; Hermias, Stepanus, dan Yoannes Philoponos. Diantara aliran-aliran filsafat dari masa ketiga, Neo Platonisme lah yang terpenting dan yang paling banyak pengaruhnya terhadap filsafat Islam.

Aliran neo platonisme merupakan rangkaian terakhir atau rangkaian sebelum terakhir dari fase Hellenisme Romawi, yaitu fase mengulang yang lama dan bukan fase mencipta yang baru. Neo Platonisme ini juga masih berkisar pada filsafat Yunani, tasawuf timur dan memilih dari sana sini, kemudian digabungkannya. Karena itu di dalamnya terdapat ciri-ciri filsafat Yunani yang kadang-kadang bertentangan dengan Agama-Agama langit, yaitu Agama Yahudi dan Agama Masehi, karena dasar filsafat tersebut ialah kepercayaan rakyat yang mempercayai sumber kekuasaan yang banyak. Karena sistem pilihan ini pula, mempercayai sumber kekuasaan yang banyak. Karena sistem pilihan ini pula, maka di dalam Neo Platonisme merupakan rangkaian terakhir atau rangkaian sebelum terakhir dari fase Hellensime Romawi, yaitu fase mengulang yang lama dan bukan fase mencipta yang baru. Neo Platonisme ini juga masih berkisar pada filsafat Yunani, tasawuf timur dan memilih dari sana sini, kemudian digabungkannya. Karena itu didalamnya terdapat ciri-ciri filsafat Yunani yang kadang-kadang bertentangan dengan Agama-Agama langit, yaitu Agama Yahudi dan Agama masehi, karena dasar filsafat tersebut ialah kepercayaan rakyat yang mempercayai sumber kekuasaan yang banyak. Karena sistem pilihan ini pula, maka didalam Neo Platonisme terdapat unsur-unsur Platonisme, Pythagoras, Aristoteles, Stoa dan tasawuf timur. Jadi Neo Platonisme mengandung unsur-unsur kemanusiaan (hasil usaha pemikiran manusia), keAgamaan dan keberhalaan (bukan Agama langit).

Neo Platonisme yang meliputi unsur-unsur ini semua datang kepada kaum muslimin dengan melalui aliran Masehi di Timur Dekat, tetapi dengan sampul lain, yaitu tasawuf Timur dan pengakuan akan keesaan Tuhan, zat “Yang pertama’, dengan ketungalan yang sebenar-benarnya. Karenanya, mereka tertarik. Maka dari itu, masa Hellen-Romawi adalah suatu fase filsafat yang tidak hanya didominasi oleh filsafat asli Yunani. Akan tetapi filsafat pada fase ini bisa dikatakan sebagai filsafat Trans Nasional.

Menurut Hatta, masa filsafat Yunani pada masa ini dalam garis besarnya dapat dibagi dua; masa etik dan masa religi. Berikut penjelasannya.

PERIODE ETIK

Periode ini terdiri dari tiga sekolah filsafat, yaitu Epikuros, Stoa dan Skeptis. Nama sekolah yang pertama diambil dari kata pembangun sekolah itu sendiri, yaitu Epikuros. Adapun nama sekolah yang kedua diambil dari kata”stoa” yang berarti ruang. Sedangkan nama skeptis diberikan karena mereka kritis terhadap para filosof klasik sebelumnya. Ajarannya dibangun dari berbagai ajaran lama, kemudian dipilih dan disatukan. Untuk lebih jelasnya, dari ketiga macam sekolah tersebut, pemakalah akan merincinya satu-persatu.

A. Epikuros (341 SM)

Epikuros dilahirkan di samos pada tahun 341 SM. Pada tahun 306 ia mulai belajar di Athena, dan di sinilah ia meninggal pada tahun 270. Filsafat Epikuros diarahkan pada satu tujuan belaka; memberikan jaminan kebahagiaan kepada manusia. Epikuros berbeda dengan Aristoteles yang mengutamakan penyelidikan ilmiah, ia hanya mempergunakan pengetahuan yang diperolehnya dan hasil penyelidikan ilmu yang sudah ia kenal, sebagai alat untuk membebaskan manusia dari ketakutan agama. Yaitu rasa takut terhadap dewa-dewa yang ditanam dalam hati manusia oleh agama Grik lama. Menurut pendapatnya ketakutan kepada agama itulah yang menjadi penghalang besar untuk memperoleh kesenangan hidup. Dari sini dapat diketahui bahwa Epikuros adalah penganut paham Atheis.

Epikuros adalah seorang filosof yang menginginkan arah filsafatnya untuk mencapai kesenangan hidup. Oleh karena itu tidak heran jika filosof yang satu ini menganut paham atheis. Hal ini semata-mata ia lakukan untuk mencapai kebahagiaan yang sempurna, tanpa ada yang membatasi.  Menurutnya filsafat dibagi menjadi tga bagian, yaitu logika, fisika dan etik.

1. Logika.

Epikuros berpendapat bahwa logika harus melahirkan norma untuk pengetahuan dan kriteria untuk kebenaran. Norma dan kriteria itu diperoleh dari pemandangan. Semua yang kita pandang itu adalah benar. Baginya pandangan adalah kriteria .yang setinggi-tingginya untuk mencapai kebenaran. Logikanya tidak menerima kebenaran sebagai hasil pemikiran. Kebenaran hanya dicapai dengan pemandangan dan pengalaman.

2. Fisika.

Teori fisika yang ia ciptakan adalah untuk membebaskan manusia dari kepercayaan pada dewa-dewa. Ia berpendapat bahwa dunia ini bukan dijadikan dan dikuasai dewa-dewa, melainkan digerakkan oleh hukum-hukum fisika. Segala yang terjadi disebabkan oleh sebab-sebab kausal dan mekanis. Tidak perlu dewa-dewa 4itu diikutsertakan dalam hal peredaran alam ini. Manusia merdeka dan berkuasa sendiri untuk menentukan nasibnya. Segala fatalisme berdasar kepada kepercayaan yang keliru. Manusia sesudah mati tidak hidup lagi, dan hidup di dunia ini terbatas pula lamanya, maka hidup itu adalah barang sementara yang tidak ternilai harganya. Sebab itu, menurutnya hidup adalah untuk mencari kesenangan.

Dari pandangan fisika yang dikemukakan Epikuros, sangat terlihat bahwa ia adalah penganut paham atheisme. Teori-teori yang ia ciptakan adalah untuk menihilkan peran Tuhan di dunia ini.

3. Etik.

Ajaran etik epikuros tidak terlepas dari teori fisika yang ia ciptakan. Pokok ajaran etiknya adalah mencari kesenangan hidup. Kesenangan hidup ialah barang yang paling tinggi nilainya. Kesenangan hidup berarti kesenangan badaniah dan rohaniah. Badan terasa enak, jiwa terasa tentram. Yang paling penting dan mulia menurutnya ialah kesenangan jiwa.

Dari ketiga ajaran Epikuros, jika diaktualisasikan ke dalam agama Islam maka akibatnya bisa fatal sekali. Seorang muslim akan menjadi atheis ketika mengikuti ajaran Epikuros ini. Di sinilah bahaya filsafat jika kita telan mentah-mentah tanpa ada proses penyaringan terlebih dahulu. Apalagi jika tidak dilandasi dengan akidah yang kuat.

 B. Stoa (340 SM)

Pendirinya adalah Zeno dari Kition. Ia dilahirkan di Kition pada tahun 340 sebelum Masehi. Awalnya ia hanyalah seorang saudagar yang suka berlayar. Suatu ketika kapalnya pecah di tengah laut. Dirinya selamat, tapi hartanya habis tenggelam. Karena itu entah mengapa ia berhenti berniaga dan tiba-tiba belajar filsafat. Ia belajar kepada Kynia dan Megaria, dan akhirnya belajar pada academia di bawah pimpinan Xenokrates, murid Plato yang terkenal.

Setelah keluar ia mendirikan sekolah sendiri yang disebut Stoa. Nama itu diambil dari ruangan sekolahnya yang penuh ukiran Ruang, dalam bahasa Grik ialah “Stoa”. Tujuan utama dari ajaran Stoa adalah menyempurnakan moral manusia. Dalam literatur lain disebutkan bahwa pokok ajaran etik Stoa adalah bagaimana manusia hidup selaras dengan keselarasan dunia. Sehingga menurut mereka kebajikan ialah akal budi yang lurus, yaitu akal budi yang sesuai dengan akal budi dunia. Pada akhirnya akan mencapai citra idaman seorang bijaksana; hidup sesuai dengan alam.

Ajarannya tidak jauh beda dengan Epikuros yang terdiri dari tiga bagian, yaitu logika, fisika dan etik.

1. Logika.

Menurut kaum Stoa, logika maksudnya memperoleh kriteria tentang kebenaran. Dalam hal ini, mereka memiliki kesamaan dengan Epikuros. Apa yang dipikirkan tak lain dari yang telah diketahui pemandangan. Buah pikiran benar, apabila pemandangan itu kena, yaitu memaksa kita membenarkannya. Pemandangan yang benar ialah suatu pemandangan yang menggambarkan barang yang dipandang dengan terang dan tajam. Sehingga orang yang memandang itu terpaksa membanarkan dan menerima isinya.

Apabila kita memandang sesuatu barang, gambarannya tinggal dalam otak kita sebagai ingatan. Jumlah ingatan yang banyak menjadi pengalaman. Kaum Stoa bertentangan pendapatnya dengan Plato dan Aristoteles. Bagi Plato dan Aristoteles pengertian itu mempunyai realita, ada pada dasarnya. Ingat misalnya ajaran Plato tentang idea. Pengertian umum, seperti perkumpulan, kampung, binatang dan lain sebagainya adalah suatu realita, benar adanya. Sedangkan menurut kaum Stoa, pengetian umum itu tidak ada realitanya, semuanya itu adalah cetakan pikiran yang subjektif untuk mudah menggolongkan barang-barang yang nyata. Hanya barang-barang yang kelihatan yang mempunyai realita, nyata adanya. Seperti orang laki-laki, orang perempuan, kuda putih, kucing hitam adalah suatu realita. Pendapat kaum Stoa ini disebut dalam filsafat pendapat nominalisme, sebagai lawan dari realisme.

2. Fisika.

Fisika kaum Stoa tidak saja memberi pelajaran tentang alam, tetapi juga meliputi teologi. Zeno sebagai pendiri Stoa, menyamakan Tuhan dengan dasar pembangun. Dasar pembangun ialah api yang membangun sebagai satu bagian daripada alam. Tuhan itu menyebar ke seluruh dunia sebagai nyawa, seperti api yang membangun menurut sesuatu tujuan. Semua yang ada tak lain dari api dunia itu atau Tuhan dalam berbagai macam bentuk.

Menurut mereka dunia ini akan kiamat dan terjadi lagi berganti-ganti. Pada akhirnya Tuhan menarik semuanya kembali padanya, oleh karena itu pada kebakaran dunia yang hebat, itu semuanya menjadi api. Dari api Tuhan itu, terjadi kembali dunia baru yang sampai kepada bagiannya yang sekecil-kecilnya serupa dengan dunia yang kiamat dahulu.

3. Etik.

Inti dari filsafat Stoa adalah etiknya. Maksud etiknya itu ialah mencari dasar-dasar umum untuk bertindak dan hidup yang tepat. Kemudian malaksanakan dasar-dasar itu dalam penghidupan. Pelaksanaan tepat dari dasar-dasar itu ialah jalan untuk mengatasi segala kesulitan dan memperoleh kesenangan dalam penghidupan. Kaum Stoa juga berpendapat bahwa tujuan hidup yang tertinggi adalah memperoleh “harta yang terbesar nilainya”, yaitu kesenangan hidup. Kemerdekaan moril seseorang adalah dasar segala etik pada kaum Stoa.

 C. Skeptis

Skeptis artinya ragu-ragu. Mereka ragu-ragu untuk menerima ajaran-ajaran yang dari ahli-ahli filsafat sebelumnya. Perlu diperhatikan bahwa skeptisisme sebagai suatu filsafat bukanlah sekedar keragu-raguan, melaiankan sesuatu yang bsa disebut keraguan dogmatis. Seorang ilmuwan mengatakan, “saya kira masalahnya begini dan begitu, tetapi saya tidak yakin.” Seorang yang memiliki keingintahuan intelektual berujar, “saya tidak tahu bagaimana masalahnya, tetapi saya akan berusaha mengetahuinya.” Seorang penganut Skeptis filosofis mengatakan, “tak seorang pun yang mengetahui, dan tak seorang pun yang akan bisa mengetahui.” Ini merupakan unsur dogmatisme yang menyebabkan sistem tersebut lemah. Kaum Skeptis, tentu saja, membantah bahwa mereka secara dogmatis menekankan mustahilnya pengetahuan, namun bantahan mereka tidak meyakinkan.

Di masa Helen-Romawi ada dua sekolah Skeptis. Kedua-duanya sama pendiriannya, keduanya ragu-ragu tentang ajaran kaum klasik yang menyatakan bahwa kebenaran dapat diketahui. Tetapi dalam hal apa yang dimaksud dengan sikap ragu-ragu itu, kedua sekolah itu berbeda pahamnya. Sekolah yang satu disebut kaum skeptis aliran Pyrrhon dari Elis. Pyrrhon lahir pada tahun 360 SM dan meninggal pada tahun 270 SM. Sekolah yang kedua disebut Skeptis Akademia, karena aliran ini lahir dalam Akademia yang didirikan oleh Plato. Aliran ini lahir kira-kira seumur orang sesudah Plato meninggal. Untuk lebih lengkapnya, mari kita tinjau satu-persatu.

1. Skeptis Pyrrhon

Skeptisisme sebagai ajaran dari berbagai madzhab, dikemukakan pertama kali oleh Pyrrhon, yang pernah menjadi seradu dalam pasukan Alexandros, dan pernah bertugas bersama pasukan itu sampai ke India. Sampai di India ia mempelajari mistik India. Tidak begitu mendalam, tatapi cukup baginya untuk menentukan jalan pikirannya. Tatkala ia kembali ke Elis, kota tempat ia lahir, didirikannya sekolah filsafat. Muridnya cukup banyak. Ia sendiri tidak pernah menuliskan filsafatnya. Tatapi ajarannya itu diketahui orang dari uraian-uraian para pengikutnya.

Menurut Pyrrhon, kebenaran tidak dapat diduga. Kita harus sangsi terhadap sesuatu yang dikatakan orang benar. Apa yang orang terima sebagai kebenaran, hanya berdasarkan kepada kebiasaan yang diterima dari orang ke orang. Rupanya saja “benar”. Karena itu orang harus sangsi terhadap hasil pikiran yang disebut benar. Pikiran itu sendiri saling bertentangan. Hal ini cukup ternyata dalam pengalaman.

Dari dua ucapan yang bertentangan tentang sesuatu, mestilah satu yang benar dan yang lainnya salah. Dan untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah dalam pertentangan pendapat yang begitu banyak, perlulah ada suatu kriteria tentang kebenaran. Kriteria itulah yang tidak ada. Oleh karena itu kebenaran tidak dapat diketahui. Maka dari itu, menurut Pyrrhon, seorang cerdik pandai hendaklah menguasai diri jangan memberi keputusan. Menjauhkan diri dari sikap memutus adalah jalanyang ditunjukkan Pyrrhon untuk mencapai kesenangan hidup.

2. Skeptis Akademia

Meskipun sekolah ini didirikan oleh Plato, tetapi generasinya tidak lagi mengusung ajaran-ajaran Plato. Para pengikut Plato, terutama di bawah pengaruh Arkesilaos lebih mengutamakan ajaran Plato yang bersifat negatif. Ajaran Arkesilaos berpangkal kepada ajaran Plato yang mengatakan bahwa dunia yang kelihatan ini adalah gambaran saja dari yang asli, bahwa pengetahuan yang didapat dari penglihatan dan pemandangan adalah bayangan pengetahuan, bukan gambaran dari pengetahuan yang sebenarnya. Pengetahuan yang sebenarnya tidak tercapai oleh manusia.

Arkesilaos dan para pengikutnya tidak sejauh kaum sketis Pyrrhon menolak kemungkinan mencapai kebenaran. Mereka terutama menolak dogma-dogma yang dikemukakan oleh kaum Epikuros dan kaum Stoa, bahwa segala pengetahuan berdasarkan pemandangan. Mereka tidak menolak sama sekali kemungkinan untuk mencapai pengetahuan. Norma pengetahuan itu ialah “kemungkinan.

 Kaum Skeptis aliran Arkesilaos berpendapat bahwa cita-cita orang bijaksana ialah bebas dari berbuat salah. Kaum Epikuros dan Stoa mengatakan bahwa memperoleh kebenaran yang sungguh-sungguh dengan membentuk dalam pikiran hasil pandangan. Menurut Arkesilaos yang seperti itu tidak mungkin. Kriteria daripada kebenaran tidak dapat diperoleh dari pikiran manusia. Sedangkan pikiran berdasarkan kepada bayangan saja, barang-barang yang dipikirkan itu pada dasarnya tidak dapat dikenal.

Ketika Arkesilaos talah meninggal, ajaran itu dihidupkan lagi oleh Karneades. Ia mengatakan bahwa kriteria bagi kebenaran tidak ada. Pemandangan-pemandangan tak pernah dapat membedakan dengan shahih pandangan yang benar dan pandangan salah. Tetapi sekalipun kebenaran yang sebenarnya tidak dapat diketahui dan pengetahuan yang shahih tidak dapat dicapai, orang tak perlu bersikap menolak terus-menerus dan menjauhkan diri dari mempertimbangkan sesuatunya. Sebagai pegangan dalam hidup sehari-hari dikemukakan oleh Karneades tiga tingkat “kemungkinan.” Pertama, pemandangan itu mungkin benar. Kedua, kemungkinan itu tidak dapat dibantah. Ketiga, kemungkinan itu tidak dapat dibantah dan telah ditinjau dari segala sudut.

PERIODE RELIGI

Pada masa etik, agama itu dianggap sebagai sesuatu belenggu yang menanam rasa takut dalam hati manusia. Karena itu agama dipandang sebagai suatu penghalang untuk memperoleh kesenangan hidup. Dan tujuan filsafat menurut Epikuros dan Stoa harus merintis jalan ke arah mencapai kesenangan hidup.

Didorong oleh perasaan dan keadaan bangsa Yunani dan bangsa lainnya yang senantiasa merasa tertekan di bawah kekuasaan kerajaan Roma, maka ajaran Etik tidak dapat memberikan jalan keluar. Kemudian perasaan agamalah yang akhirnya muncul sesudah beberapa abad terpendam dapat mengobati jiwa yang terluka. Mulai dari sinilah pandangan filsafat berbelok arah, dari otak turun ke hati. Keinginan untuk mengabdi kepada Tuhan hidup kembali. Perasaan menyerah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kesenangan rohani. Perasaan bimbang hilang, cinta terikat kepada Tuhan Yang Maha Tinggi.soal rasio tidal ada lagi, soal irasionalisme-lah yang muncul kemudian. Dengan sendirinya, fakultas filsafat berkembang ke jurusan mistik. Perasaan mistik tidak dapat dipupuk dengan pikiran yang rasional, melainkan dengan jiwa yang murni. Pada periode ini, ada tiga aliran yang berperan, yaitu aliran Neo-Pythagoras, aliran Philon, aliran Plotinus atau Neo-Platonisme. Tetapi di sini kami hanya menjelaskan dua aliran saja, yaitu Neo Pythagoras dan Philon, karena aliran Neo Platonisme akan dijelaskan oleh pemakalah selanjutnya.

A. Aliran Neo Pythagoras

Dinamakan Neo Pyithagoras karena ia berpangkal pada ajaran Pyithagoras yang mendidik kebatinan dengan belajar menyucikan roh. Yang mengajarkannya ialah mula-mula ialah Moderatus dan Gades, yang hidup dalam abad pertama tahun masehi. Ajaran itu kemudian diteruskan oleh Nicomachos dari Gerasa.

Untuk mendidik perasaan cinta dan mengabdi kepada Tuhan, orang harus menghidupkan dalam perasaannya jarak yang jauh antara Tuhan dan manusia. Makin besar jarak itu makin besar cinta kepada Tuhan. Dalam mistik ini, tajam sekali dikemukakan perbedaan antara Tuhan dan manusia, Tuhan dan barang. Bedanya Tuhan dan manusia digambarkan dalam mistik neo Pythagoras sebagai perbedaan antara yang sebersih-bersihnya dengan yang bernoda. Yang sebersih-bersihnya adalah Tuhan, yang bernoda ialah manusia.

Menurut mereka, Tuhan sendiri tidak membuat bumi ini. sebab apabila Tuhan membuat bumi ini , berarti ia mempergunakan barang yang bernoda sebagai bahannya. Dunia ini dibuat oleh pembantunya, yaitu Demiourgos. Kaum ini percaya bahwa jiwa ini akan hidup selama-lamanya dan pindah-pindah dari angkatan makhluk turun temurun. Kepercayaan inilah yang menjadi pangkal ajaran mereka tentang inkarnasi.

B. Philon Alexandreia

Alexandria terletak di Mesir. Di sana bertemu antara filsafat Yunani yang bersifat intelektualis dan rasionalis, dan pandangan agama kaum Yahudi yang banyak mengandung mistik. Pencetusnya adalah Philon. Ia hidup dari 25 SM, sampai 45 M. ia mencapai umur 70 tahun. Ia adalah seorang pendeta Yahudi, karenanya filsafat yang dipelajarinya terpengaruh oleh pandangan agama.

Yang menjadi pokok pandangan filsafatnya ialah hubungan manusia dengan Tuhan. Baginya Tuhan itu Maha Tinggi tempatnya. Tuhan hanya dapat diketahui oleh kata-kata-Nya yang terdapat dalam kitab suci, dari alam dan dari sejarah. Tuhan sendiri tidak dapat diketahui oleh manusia dengan panca inderanya.

Karena Tuhan itu begitu tinggi kedudukannya, perlulah ada perantara yang menghubungkan Tuhan dengan alam. Makhluk terutama yang terdekat dengan Tuhan ialah “Logos”. Logos itu ialah sumber dari segala cita-cita yang sebagai pikiran Tuhan. Logos juga beredar dalam dunia yang nyata sebagai penjelmaan dari akal Tuhan. Kewajiban manusia yang pertama, menurut mereka, ialah mengasuh jiwa mendekati Tuhan. Kesenangan hidup sebesar-besarnya adalah mengabdi kepada Tuhan. Tujuan tertinggi ialah bersatu dengan Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: Tintamas, 1986, cet. 3.
  2. Drs. Atang Abdul Hakim, M.A. & DRs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. FILSAFAT UMUM “Dari Metologi Sampai Teofilosofi”, Bandung: Pustaka Setia, 2008, cet. 1.
  3. http://www.masbied.com
  4. http://senaru.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: