secerahpewarna

Belajar dan terus Belajar

ILMU, ALAM, ALIM DAN PERBEDAANNYA DENGAN ADAB

ILMU, ALAM, ALIM DAN PERBEDAANNYA DENGAN ADAB

A.      Pendahuluan

Manusia dalam kehidupannya di dunia diberikan potensi yang sangat luar biasa, berbeda dengan makhluk lain yang Allah ciptakan, pembeda penciptaan manusia dengan makhluk yang lain adalah manusia dikaruniai akal. Dengan akal manusia mempunyai potensi untuk memelihara dunia dengan baik, dengan akal pula manusia mampu mengembangkan pemikirannya untuk kemaslahatan kehidupannya. Meskipun pada kenyataannya manusia di dunia terkadang menyalahgunakan karunianya tersebut dengan melakukan hal-hal yang tidak disetujui oleh Penciptanya.

Terlepas dari sisi negatif yang dimiliki manusia, dunia ini menjadi ramai dan kehidupan pun dapat merasakan bagaimana akal manusia berkerja, akal manusia dapat bekerja sehingga mampu menciptakan berbagai hal dari ilmu pengetahuan, dan tentunya akal tersebut tidak akan bisa berkembang begitu saja, melainkan manusia menjalani sebuah proses yang sangat urgen dalam kehidupannya yaitu belajar, belajar, dan belajar.

Proses pembelajaran yang dilakukan manusia dari kategori ilmu pengetahuan terbagi pada dua aspek yang menjadi pilihan manusia dalam belajar, yaitu belajar ilmu pengetahuan umum (dunia saja), dan belajar ilmu pengetahuan Agama (dunia-akhirat). Dalam Agama hal ini Islam menitikberatkan pada pemeluknya bahwa setiap ilmu pengetahuan yang dipelajari harus dijadikan sebagai sarana mencari dan menguatkan keimanannya kepada Allah Swt.

Maka lahirlah lembaga pendidikan Islam yang berkonsentrasi pada pendidikan ke-Agamaan dengan tidak melupakan ilmu pengetahun yang lain. Seiring berjalannya waktu dan banyaknya para pemikir di dunia Islam khususnya di bidang pendidikan, pengjaran menjadi sebuah proyek penelitian untuk menemukan kata dan konsep yang pas di dunia pendidikan Islam, sehingga muncullah berbagai rumusan definisi serta istilah-istilah dalam pendidikan Islam seperti Tarbiyah, Ta’lim, Tadris, Tahdib dan Ta’dib.

Istilah-istilah tersebut pada prinsipnya sama yaitu mengenai konsep pendidikan Islam yaitu sebuah proses pengembangan, pemeliharaan, penjagaan, pengurusan, penyampaian ilmu, pemberi petunjuk, penanaman, pembinaan, penyempurnaan, dan perasaan memiliki bagi anak didik baik jasad, akal, jiwa, bakat, potensi, perasaan, secara berkelanjutan, bertahap menurut ada-adab tertentu, membentuk kesempurnaan fitrah manusia, beriman dan bertakwa, melahirkan amal shaleh, hidup mandiri, dan untuk mencapai ridha Allah Swt.

Meskipun banyak istilahnya, namun pada makalah ini dibatasi pada pengertian ta’lim (Ilmu, Alam dan ‘Alim) serta Ta’dib.

B.       Pengertian Ilmu

Menurut bahasa (Arab) : Al-Ilmu lawan kata Al-Jahlu (Tidak tahu atau bodoh). (Lisanul Arab). Atau Al-Ilmu adalah mengenal sesuatu dalam keadaan aslinya dengan pasti. (Kitabul Ilmi). Menurut istilah : Ilmu yang kita maksud disini adalah Ilmu Syar’I yaitu Ilmu tentang penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang Allah Swt turunkan kepada Rasul-Nya (atau dengan kata lain Ilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah).

Ilmu yang disebut-sebut dalam (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan mendapatkan pujian adalah ilmu wahyu (Kitabul Ilmi hal 11) Namun demikian bukan berarti bahwa ilmu-ilmu yang lain tidak ada manfaatnya. Ilmu-ilmu lain dikatakan bermanfaat jika dilihat dari salah satu sisinya (yang baik) yaitu : jika membantu dalam ketaatan kepada Allah Swt dan dalam menolong Agama Allah serta bermanfaat bagi kaum muslimin. Kadang-kadang hokum mempelajarinya menjadi wajib jika itu masuk dalam firman Allah Swt. “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi darikuda-kuda yang ditambat untuk perang”. (QS. Al-Anfaal : 60).

Orang-orang yang mempelajari bahasa Arab mengalami sedikit kebingungan tatkala menghadapi kata “ilmu”. Dalam bahasa Arab kata al-‘ilmu berarti pengetahuan (knowledge), sedangkan kata “ilmu” dalam bahasa Indonesia biasanya merupakan terjemahan  science. Ilmu dalam arti science itu hanya sebagian dari al-‘ilmu dalam bahasa Arab. Karena itu kata science seharusnya diterjemahkan sain saja. Maksudnya agar orang yang mengerti bahasa Arab tidak bingung membedakan kata ilmu (sain) dengan kata al-‘ilmu yang berarti knowledge. Mencari ilmu adalah sebuah keharusan yang mesti dilakukan oleh setiap individu, hal itu telah diisyaratkan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik ra. yang berbunyi :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya “ Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.

Ilmu akan didapat melalui proses belajar, belajar, dan belajar sampai akhir hayat, karena ilmu yang Allah berikan kepada manusia begitu banyak dan luas, sehingga belajar mencari ilmu tidak bisa dibatasi oleh waktu.

C.        Pengertian Alam

Kalimat Alam terdapat dalam QS. Al-Alaq ayat 4 dan 5 yaitu allama yang berasal dari kata alima yang mempunyai arti: (1) arafa (mengetahui atau mengerti), atau (2) yaqin. Jika menggunakan arti pertama, allama berarti menjadikan orang lain mengerti, atau memberikan pengertian kepada orang lain tentang sesuatu. Jika menggunakan arti kedua,  Allah akan memberi keyakinan kepada manusia tentang sesuatu.

Adapun Sutarno menggarisbawahi kata ‘allama yang menurutnya berarti “banyak mengilmukan, yang tidak diketahui oleh makhluk lain”. Sementara Aceng menandai adanya tasydid yang memang bisa menunjukkan makna banyak. “Allah ini banyak mentransfer ilmu,” paparnya. Dalam ayat (5) ini tidak lagi disebutkan adanya alat ataupun proses. Hal ini menurut Zulkarnain bermakna, ilmu yang dimaksud langsung diajarkan Allah, seperti kepada para Nabi dan Rasul.

D.       Pengertian Alim

Kata ‘Alim terambil dari akar kata “’ilm” yang menurut pakar-pakar bahasa berarti “menjangkau sesuatu seusai dengan keadaannya yang sebenarnya”. Bahasa Arab menggunakan semua kata yang tersusun dari huruf-huruf “äin”, “lam”, “mim” dalam berbagai bentuknya untuk menggambarkan sesuatu yang sedemikian jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. “Ilmu” diartikan sebagai suatu pengenalan yang sangat jelas terhadap suatu objek. Allah SWT dinamai “Alim” atau “’Alim” Karena pengetahuan-Nya yang amat jelas sehingga terungkap baginya hal-hal yang sekecil apapun. Tidak tertutup kemungkinan bahwa seorang hamba itu mendapatkan bagian dari sifat ilmu ini, tetapi berbeda dengan ilmu Allah dalam tiga perkara, yaitu :

  1. Dari banyaknya pengetahuan. Betapapun luasnya pengetahuan seorang hamba, hal itu masih terbatas. Bagaimana akan dibandingkan dengan ilmu Allah yang tidak ada ujung dan batasnya?
  2. Bahwa kasyaf (melihat dengan mata batin) seorang hamba itu, bagaimanapun jelasnya, ia tidak bisa mencapai tujuan yang tidak ada ujungnya lagi; penyaksiannya terhadap sesuatu itu ibarat ia melihatnya dari balik tirai yang tipis. Tidak dapat diingkari adanya perbedaan dalam derajat kasyaf itu, sebab pandangan mata batin ibarat mata lahir dalam memastikan segala sesuaatu yang dipandangnya, seperti perbedaan antara melihat di kala remang-remang dan melihat di waktu terang-benderang.
  3. Bahwa ilmu Allah itu tidak diperoleh dari sesuatu, namun sesuatu itulah yang mendapatkannya dari-Nya. Sedangkan ilmu seorang hamba itu mengikuti sesuatu dan dihasilkan darinya. Jika Anda masih kurang memahami penjelasan ini, maka ambil contoh ilmu seorang yang baru belajar catur dan orang yang membuatnya, misalnya. Si pembuat catur menjadi sebab adanya catur, dan adanya catur itu menjadi sebab ilmunya si pelajar catur. Namun ilmu si pembuat catur lebih dahulu dengan mengadakan catur itu, sedangkan ilmu orang yang belajar catur itu terakhir. Demikian pula halnya deengan ilmu Allah SWT; ia mendahului segala sesuatu dan menjadi sebab baginya.

Tiada keraguan, Dialah Maha Mengetahui. Segala yang akan terjadi dan telah terjadi tidak luput dari pantauan-Nya, masa kini atau yang akan datang. Dialah yang mengetahui segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang terjadi, dan segala yang akan terjadi sejak awal, sedang terjadi dan yang akan terjadi sejak awal hingga akhir. Semua eksistensi di segala zaman berada di dalam pengetahuan Al-’Alim. Tak ada yang luput, tak seorang pun dapat yang dapat bersembunyi. Segala eksistensi bereksistensi diciptakan oleh-Nya di dalam batas-batas tertentu yang telah diciptakan-Nya. Ia mengetahui sebanyak yang diizinkan Allah. Tetapi pengetahuan Allah tiada batasnya. Pengetahuan yang melingkupi seluruh alam membuat jangkauan otak manusia sedikitpun tak mampu mengikutinya. Keberadaan Al-’Alim terkadang menjadi misteri bagi kita, sebagai hambaNya. Saat kita berpikir untuk berjalan menuju Allah, Allah sudah berlari menyambut kita. Pengetahuan semua makhluk bersumber dari pengetahuan-Nya, “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” (Q.s. Al-Baqarah 2:255). Allah “mengajar dengan qalam”, yakni mengajar manusia melalui upaya mereka dan “mengajar apa yang mereka tidak diketahui”, tanpa usaha mereka, tetapi langsung sebagai curahan rahmat-Nya. Begitu informasi-Nya dalam Q.s. Al-Alaq. Manusia memperoleh kehormatan karena ilmu yang dianugerahkan Allah kepadanya. “Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang yang benar!’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.s. Al-Baqarah 2:30-31). Pengetahuan manusia mungkin bisa membuat perangkat sains yang luar biasa, tapi mampukah menyamai mahkluk kecil semacam semut. Menirukan segala lekuk dan ruas-ruasnya. Secanggih apapun peralatan atau ilmu kita tetap tak akan mampu menirukan ilmunya.

Dari kata ‘alima dapat diturunkan antara lain kata al-‘ilm (ilmu). Berbagai turunan dari kata ‘alima (ya’lamu, ta’lamu, na’lamu, ta’lamun, ya’lamun, i’lamu, ‘allama, dan yang sejenisnya) disebut sebanyak 749 kali dalam Alquran yang secara keseluruhan  berbicara soal pengetahuan atau ilmu, termasuk mengajar, mengajarkan, dan yang mengetahui atau berilmu (‘Abd al-Baqi,[t.th.] : 596-609). Contoh penggunaan kata ‘alima dalam Alquran adalah sebagai berikut

اقراء باسم ربك الذى خلق خلق الانسان من علق اقراء وربك الاكرم الذى علم بالقلم علم الانسان ما لم يعلم

Artinya : Bacalah  dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacala, dan Tuhanmu Yang maha mulia. Yang mengajar kepada (manusia) dengan perantaraan qalam. Yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (Q.S. al-‘Alaq/96 : 1-5).

E.      Pengertian Ta’lim

Kata ta’lim (تعليم) adalah Mashdar dari علّم  yang diambil dari عَلِمَ  yang berpola kepada فعّل wazan ini salah satu fungsinya adalah li-ta’diyat, yaitu untuk menjadikan kata kerja yang asalnya tidak berobjek, menjadi berobjek, atau kata kerja yang asalnya berobjek satu menjadi berobjek dua.

Ta’lim adalah proses pemberitahuan sesuatu dengan berulang-ulang dan sering sehingga muta’allim (siswa) dapat mempersepsikan maknanya dan berbekas pada dirinta. Makna ini menunjukan pada proses ta’lim. Abdurrahman Albani bependapat bahwa ta’lim pada umumnya berkenaan dengan informasi, yakni aspek intelektual, dan kadang berkenaan dengan penguasaan suatu keterampilan.Ramayulis menyebutkan adanya pengulangan pelajaran itu beberapa kali mulai bertolak daripada yang mnudah terus kepada yang sukar. Setiap kali kita memberikan pelajaran selalu diulang yang sudah lalu itu dan kemudian disempurnakan dan ditambah, jadi makin lama makin luas dan lengkap serta sempurna.

 F.       Pengertian Adab

Para ahli bahasa memberi arti kata الأدب dengan beberapa arti, antara lain حسن الأخلاق و فعل المكارم artinya budi pekerti yang baik dan perilaku terpuji,  الظرف artinya sopan santun, dan رياضة النفس و محاسن  artinya melatih jiwa dan memperbagus akhlak. (Al-jubaydi).

 Adab ialah pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta. Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti amal tanpa ilmu. Keduanya sia-sia karena yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketidaksadaran dan kejahilan. (Naquib Al Attas). Semua arti tersebut menunjukan kepada akhlak yang baik.

 Albagdadi menjelaskan pendidikan akhlak (ta’dib) ialah penanaman akhlak yang baik, sifat yang terpuji, adab yang mulia, serta pengokohannya pada diri siswa khususnya dan muslim pada umumnya. Dengan demikian ta’dib adalah mengakhlakkan anak sejak kecil agar jujur, dapat dipercaya, istiqomah, mementingkan orang lain, menolong yang papa, menghormati yang benar, memuliakan tamu, berbuat baik kepada tetangga dan mencintai orang lain.

 G.      Perbedaannya

1. Ta’lim

Ta’lim pada umumnya berkenaan dengan informasi, yaitu aspek intelektual dan terkadang berkenaaan dengan penguasaan suatu keterampilan. Maka ta’lim adalah bagian dari pendidikan intelektual, yang tujuannya memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman akan suatu ilmu atau seni atau pekerjaan.

2. Ta’dib

  • Dalam konteks ilmu adab berarti disiplin intelektual yang mengenal dan mengakui adanya hirarki ilmu berdasarkan criteria tingkatan-tingkatan keluhuran dan kemuliaan.
  • Dalam kaitannya dengan alam adab berarti pendisiplinan akal praktis dalam berhubungan dengan hirarki yang menjadi karakter alam semesta sehingga seseorang bisa membuat keputusan yang tepat mengenai nilai-nilai dari segala sesuatu, baik dalam konteksnya sebagai tanda-tanda tuhan, sumber ilmu pengetahuan, maupun sebagai sesuatu yang berguna bagi pengembangan ruhaniah dan jasmaniah manusia.
  • Dalam konteks ilmu adab berarti disiplin intelektual yang mengenal dan mengakui adanya hirarki ilmu berdasarkan criteria tingkatan-tingkatan keluhuran dan kemuliaan.
  • Dalam kaitannya dengan alam adab berarti pendisiplinan akal praktis dalam berhubungan dengan hirarki yang menjadi karakter alam semesta sehingga seseorang bisa membuat keputusan yang tepat mengenai nilai-nilai dari segala sesuatu, baik dalam konteksnya sebagai tanda-tanda tuhan, sumber ilmu pengetahuan, maupun sebagai sesuatu yang berguna bagi pengembangan ruhaniah dan jasmaniah manusia.

  Referensi

  1. Dedeng Rosidin, Konsep Pendidikan Formal Dalam Islam, Bandung, Pustaka Nadwah, 2009.
  2. Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, 2009, Rosda Karya, Bandung.
  3. Sunan Ibn Majah Kitab al-muqaddimah bab fadl al-‘ulama’ wa al-hatsts ‘ala talab al-‘ilm. (Kitab digital mawaoaat_hadeeth)
  4. Dedeng Rosidin, Akar-akar pendidikan dalam Al-Quran dan Al-Hadits, Bandung, Pustaka Utama, 2003.
  5. Adian Husaini, Pendidikan Islam (membentuk manusia berkarakter & beradab), Jakarta, Cakra Media, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: