secerahpewarna

Belajar dan terus Belajar

Pengorganisasian (Organizing)

Pengorganisasian (Organizing)

 A.      Pengertian

Sepanjang perkembangannya, pengorganisasian/sebagai fungsi manajemen memiliki perngertian yang berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan latar belakang keahlian para pakar yang memberikan pengertian itu, dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dalam menerapkan fungsi pengorganisasian tersebut.

Longenecher (1972) secara umum mendefinisikan pengorganisasian sebagai aktivitas menetapkan hubungan antara manusia dan kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Pengertian ini menjelaskan bahwa kegiatan pengorganisasian berkaitan dengan upaya melibatkan orang-orang ke dalam kelompok itu untuk, dan upaya melakukan pemabagian kerja diantara anggota kelompok itu untuk melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

    Schermerhorn, Hunt, dan Osborn (1985) member arti bahwa pengorganisasian sebagai upaya menyusun sumber daya manusia dan sumber daya non-manusia, termasuk sumber daya alam, ke dalam suatu gabungan yang produktif. Sebagai contoh penyusunan suatu bagian (divisi) pendidikan nonformal dalam satu lembaga dan penetapan kegiatan adalah proses manajerial untuk membentuk organisasi yang diberi tugas melaksanakan rencana yang telah ditetapkan guna mencapai tujuan organisasi. Untuk kelancaran tugas pimpinan disediakan kantor, staf, anggaran kegiatan, dan lain sebagainya.

  Pengorganisasian dalam pendidikan formal adalah usaha mengintegrasikan sumber daya manusia dan non-manusia yang diperlukan ke dalam satu kesatuan untuk melaksanakan kegiatan sebagaimana telah direncanakan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu. Dengan kata lain, pengorganisasian adalah proses kegiatan manajerial untuk membentuk organisasi yang diberi tugas melaksanakan rencana yang telah ditetapkan guna mencapai tujuan organisasi.

 

B.       Hakekat Organisasi

Etzioni (1964) mengemukakan bahwa organisasi adalah suatu kesatuan social (pengelompokan manusia) yang dibentuk dan/atau dibentuk kembali dengan sengaja untuk mewujudkan tujuan-tujuan organisasi. Suatu organisasi memiliki tiga cirri, yaitu Pertama, adanya pembagian tugas, kekuasaan dan tanggung jawab yang ditentukan dengan sengaja untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kedua, adanya satu atau beberapa pusat  kekuasaan yang mengendalikan dan mengarahkan semua kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi. Ketiga, penggantian orang-orang dilakukan atas dasar pertimbangan daya guna dan hasil guna dalam mencapai tujuan.

Siagian (1982) merumuskan bahwa organisasi pada hakikatnya adalah sebagai wadah dan proses. Sebagai wadah, organisasi adalah wahana yang di dalamnya diselenggarakan kegiatan administrasi atau manajemen. Dalam melaksanakan manajemen disusun berdasarkan landasan-landasan, formal, situasional, dan status dengan tidak mengabaikan fleksibilitas.

Sebagai proses, organisasi menekankan adanya interaksi dinamis antara orang-orang yang terlibat di dalamnya. Pentingnya interaksi didasarkan atas teori dan pengalaman empiric  yang menunjukkan bahwa hubungan kemanusiaan (human relations) menjadi factor yang sangat mempengaruhi kegiatan organisasi.

Dalam organisasi modern, hubungan resmi dan hubungan tidak resmi perlu dibina. Kedua hubungan kemanusiaan ini harus saling mempengaruhi dan saling menunjang antara satu dengan yang lainnya. Keduanya berfungsi untuk mendukung kegiatan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Terwujudnya kedua hubungan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan iklim kerjasama yang demokratis, suasana saling menghargai antara orang-orang yang terlibat dalam organisasi, rasa pemilikan dan tanggung jawab bersama, dan terwujudnya kepuasan dalam melakukan kegiatan. Sejalan dengan itu, perkembangan hubungan formal dan informal yang dinamis akan memungkinkan peningkatan partisipasi setiap pihak untuk melaksanakan tugas dan kegiatan dengan sebaik-baiknya. Singkatnya, kemantapan dalam organisasi sangat dipengaruhi oleh kualitas dinamika hubungan kemanusiaan setiap orang yang terlibat dalam organisasi ini.

 

C.      Prinsip-Prinsip Pengorganisasian

Pengorganisasian menurut Roco Carzo dalam bukunya organizational realities, terdiri atas tiga prinsif yaitu kebermaknaan, keluwesan, dan kedinamisan (Connor, 1974: 131) kebermaknaan member gambaran bahwa pengorganisasiaan memiliki daya guna dan hasil guna yang tinggi terhadap pelaksanaan kegiatan yang ditetapkan dalam rencana dan terhadap pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Keluwesan memberikan peluang untuk terjadinya perubahan, seperti pengembangan atau modifikasi dalam organisasi pada saat kegiatan sedang berlangsung. Perubahan mungkin terjadi sebagai akibat dari adanya perubahan tuntutan, masalah, dan kebutuhan baru yang datang dari dalam dan dari luar organisasi pada saat pelaksanaan kegiatan. Kedinamisaan menjadi acuan bagi setiap orang dalam organisasi untuk mengembangkan kreativitas dalam melaksanakan tugas pekerjaan, dalam melakukan serta menjalin hubungan resmi dan hubungan tidak resmi; juga kedinamisan terhadap gejala perubahan yang terdapat dalam lingkungan. Menurut Terry (1978), kedinamisan menjadi tuntutan pengorganisasian. Tuntutan itu didasarkan atas persfektif perkembangan organisasi, perubahan sikap, kemampuan dan kepentingan orang-orang dalam organisasi, serta perubahan di bidang ekonomi, perkembangan ilmu pengetahuaan dan tekhnologi yang dapat mempengaruhi organisasi. Singkatnya, ketiga prinsif diatas yaitu kebermaknaan, keluwesan dan kedinamisan, saling berkaitan dan saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya

D.      Ilustrasi Penerapan Pengorganisasian dalam Pendidikan Nonformal

Susunan organisasi penyelenggaraan pendidikan dan latihan. Struktur organisasi tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut.

Pengorganisasian dilakukan melalui langkah-langkah yang berurutan. Pertama, memahami tujuan yang akan dicapai dan kegiatan yang telah disusun dalam rencana. Kedua, menjabarkan kegiatan ke dalam rincian pekerjaan. Ketiga, menentukan persyaratan ketenagaan, menetapkan peraturan, dan merekrut tenaga sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Keempat, memadukan tenaga, sumber-sumber lain, dan pekerjaan ke dalam organisasi yang cocok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Singkatnya, pengorganisasian menghasilkan organisasi yang harus dan dapat mendukung penjabaran rencana untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

 

E.       Bentuk-Bentuk Organisasi

Bentuk organisasi secara garis besarterdiri atas dua tipe. Pertama, adalah tipe organic atau tipe perilaku dan kedua, tipe mekanistik atau tipe klasik. Tipe yang disebut pertama menitik beratkan pada koordinasi semua tugas dan menekankan pada loyalitas setiap tenaga pelaksana. Tipe ini memiliki cirri keterbukaan, berorientasi pada pemecahan masalah, cepat menyesuaikan diri terhadap keadaan, bercorak kemasyarakatan, luwes, dan adanya hubungan informal. Sedangkan organisasi tipe mekanistik atau klasik mempunyai cirri tertutup, terprogram, rutin dalam tugas, statis, bersifat teknis, kaku, dan ketatnya hubungan secara formal. Perlu ditambahkan bahwa kedua tipe tersebut memiliki perbedaan dalam mekanisme tugas dan tanggung jawab setiap orang yang terlibat dalam organisasi.

Selain adanya kebaikan tipe organic atau tipe perilaku, pakar psikologi dan sosiologi menyoroti secara khusus kebaikan dan kelemahan tipe mekanisme atau klasik. Menurut pandangan psikologis tipe mekanistik atau klasikdapat menumbuhkan prestasi para pelaksana. Namun tipe ini cenderung kurang mengembangkan kedewasaan mereka. Pandangan sosiologis menyatakan bahwa tipe ini dipengaruhi oleh system kemasyarakatan, kelembagaan, dan pemerintahan yang sentralistis. Pengaruh tersebut sering digunakan untuk menjaga stabilitas, kesatuan dan kelangsungan tugas-tugas yang telah ditetapkan. Sedangkan situasi yang kurang menentu atau keadaan yang cepat berubah, tipe organic atau perilaku lebih cepat digunakan.

F.       Prinsip-Prinsip Organisasi

Bentuk organisasi apapun yang ada, yaitu organisasi lini, lini dan staf, fungsional, proyek, dan kepanitiaan akan efektif apabila rancangan pembentukannya didasarkan atasprinsif-prinsif pengorganisasian yang tepat. Seperti halnya seorang insinyur sipil merancang sebuah jembatan harus berdasarkan prinsif-prinsif keilmuaan dan tekhnologi dalam profesi keinsinyuran. Demikian pula halnya para pengelola pendidikan nonformal perlu merancang bentuk organisasi sesuai dengan prinsif-prinsif pengorganisasian pendidikan nonformal. Prinsif-prinsif pengorganisasian tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Tujuan organisasi harus jelas, tujuan inilah yang member arah terhadap kegiatan yang dilakukan.
  2. Dalam organisasi harus terdapat alur lalu lintas kekuasaan dari pimpinan kepada pihak yang dipimpin.
  3. Terdapat tanggung jawab yang jelas antara pihak yang dipimpin dengan pihak yang memimpin.
  4. Tanggung jawab dan wewenang setiap unit pelaksana atau staf harus dirumuskan secara tertulilis dengan jelas.
  5. Dalam organisasi ada pembagian tugas.
  6. Tugas lini yang menjadi tugas pokok, harus dari tugas staf sebagai tugas penunjang.
  7. Pimpinan-pimpinan unit pelaksana atau staf yang di koordinasi hendaknya terbatas dalam jenis jabatan dan jumlah orangnya.
  8. Organisasi harus sederhana, spesipik, pleksibel, dan memiliki sumber daya manusia yang tepat untuk setiap jabatan dan pekerjaan.
  9. Dalam organisasi harus ada jaminan keamanan, ketentraman, dan kreatifitas kerja.

Organisasi adalah wahana untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan tugas dan hubungan kemanusiaan yang tinggi yang ditampilkan semua pihak yang terlibat dalam organisasi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

free counters

Temukan kami di Facebook

%d blogger menyukai ini: