secerahpewarna

Belajar dan terus Belajar

Shaum Ramadhan

Ibadah adalah pekerjaan ritual yang dilakukan seorang hamba kepada Tuhannya. Ibadah adalah jembatan seorang hamba untuk mendekatkan diri pada penciptanya. Ibadah Secara bahasa bermakna perendahan diri dan ketundukan (Lihat Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 17, at-Tauhid al-Muyassar, hal. 53).

Secara terminologi, ada beberapa definisi yang diberikan oleh para ulama tentang makna ibadah, yang pada hakikatnya semua definsi itu saling melengkapi. Di antaranya mereka menjelaskan bahwa ibadah adalah ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya yang disampaikan melalui lisan para rasul-Nya (Lihat Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 17).

Syaikh as-Sa’di rahimahullah juga menerangkan bahwa ibadah itu mencakup ketundukan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta membenarkan berita yang dikabarkan-Nya (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 45)

Ibnu Juraij rahimahullah mengatakan bahwa ibadah kepada Allah artinya adalah mengenal Allah (Lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [7/327]). Yang dimaksud mengenal Allah di sini adalah mentauhidkan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat tentang perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz sebelum keberangkatannya ke Yaman. Beliau bersabda, “.. Hendaklah yang pertama kali kamu ajak kepada mereka adalah supaya mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla -dalam riwayat lain disebutkan untuk mentauhidkan Allah-, kemudian apabila mereka sudah mengenal Allah…” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Nawawi [2/49] cet. Dar Ibnul Haitsam, lihat pula Shahih Bukhari cet. Maktabah al-Iman, tahun 1423 H, hal. 203 dan 1467. Lihat juga Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 80 cet. Dar al-Hadits tahun 1423 H)

Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ibadah adalah puncak perendahan diri yang dibarengi dengan puncak kecintaan. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Menurut pengertian syari’at ibadah itu adalah suatu ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/34]). Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Sebagian ulama mendefinisikan ibadah sebagai kesempurnaan rasa cinta yang disertai kesempurnaan sikap tunduk.” (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 34).

Sebagai hamba yang dituntut untuk beribadah kepada Allah Swt sudah selayaknya mengetahui apa dan bagaimana cara melakukan ibadah yang baik dan benar, tentunya tiada jalan yang baik kecuali dengan terus mencari dan mencari ilmu keagamaan guna mengetahui tata cara ibadah. Salah satu ibadah yang harus dilaksanakan sebentar lagi adalah Ibadah Shaum di bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan yang dikatakan sebagai bulan penuh berkah dan bulan ampunan (pembersih diri) adalah bulan yang disyari’atkan oleh Allah bagi hamba-Nya untuk melaksanakan Shaum sebagaimana firmannya dalam Quran Surat Al-Baqarah Ayat 183 yang artinya :

“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

Ayat di atas sebagai intruksi yang mempunyai hukum wajib untuk dilaksanakan oleh hamba-Nya yang beriman, bahkan pada bulan ini seakan menjadi pembeda antara manusia yang satu dengan manusia yang lain yaitu akan telihat siapa yang beriman atau tidak.

Allah Swt mengabarkan tentang segala yang Dia karuniakan kepada hamba-hambaNya dengan cara mewajibkan atas mereka berpuasa sebagaimana Allah telah mewajibkan puasa itu atas umat-umat terdahulu, karena puasa itu termasuk di antara syariat dan perintah yang mengandung kemaslahatan bagi makhluk di setiap zaman, shaum juga menambah semangat bagi umat ini yaitu dengan berlomba-lomba dengan umat lain dalam menyempurnakan amal perbuatan dan bersegera menuju kepada kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan shaum itu juga bukanlah suatu perkara sulit yang merupakan keistimewaan kalian.

Kemudian Allah Swt menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa seraya berfirman, { لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ } “Agar kamu bertakwa,” karena sesungguhnya shaum itu merupakan salah satu faktor penyebab ketakwaan, karena melaksanakan shaum adalah merealisasikan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dan di antara gambaran yang meliputi ketakwaan dalam shaum itu adalah bahwa orang yang shaum akan meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah seperti makan, minum, melakukan jima’ dan semacamnya yang sangat diinginkan oleh nafsunya dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah seraya mengharapkan pahala dalam meninggalkan hal-hal tersebut, inilah hal yang merupakan ketakwaan, di antaranya juga sebagai gambaran bahwasanya orang yang berpuasa itu melatih dirinya dengan selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala, maka meninggalkan apa yang diinginkan oleh nafsunya padahal dia mampu melakukannya karena dia tahu bahwa Allah melihatnya.

Gambaran lain dalam shaum adalah bahwasanya puasa itu mempersempit gerakan setan karena setan itu selalu berjalan dalam tubuh manusia seperti jalannya darah, maka shaum akan melemahkan pengaruhnya dan meminimkan kemaksiatan, di antaranya juga bahwa seorang yang berpuasa biasanya akan bertambah ketaatannya, sedang ketaatan itu adalah gambaran dari ketakwaan, yang lainnya lagi adalah bahwa orang yang kaya bila merasakan susahnya kelaparan, pastilah ia menghibur kaum miskin lagi papa, dan ini pun dari gambaran ketakwaan.

Di bawah ini adalah tafsir QS Al-Baqarah 183

Ya ayyuhal ladziina aamanu kutiba ‘alaikumus shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum la’allakum tattaquun.

Ya ayyuha

Ya ayyuna adalah kata yang digunakan untuk panggilan. Dalam bahasa Arab disebut harfun nida’ (kata panggilan). Ia sama dengan kata “Ya”. Atau dalam bahasa Indonesia, “Hai” atau “Wahai”.

Dalam Al Qur’an, kita menjumpai penggunaan kata “Ya aiyuha”, seperti pada kata “Ya aiyuhan naas”, “Ya aiyuhal insan”, “Ya aiyuhan Nabiy”, “Ya aiyuhal mudats-tsir”, “Ya aiyuhal muzammil”, dan lainnya. Artinya sama, berupa panggilan kepada pihak-pihak tertentu.

Biasanya, jika seseorang dipanggil, dia akan bersungguh-sungguh menyambut panggilan itu. Misalnya, dia dipanggil oleh kakak atau adiknya, orangtua, anak dan isterinya, shahabat, tetangga, guru, pak RT, pak RW, dan sebagainya. Semakin terhormat seseorang yang memanggil, semakin besar pula kesungguhannya. Panggilan seorang walikota, bupati, gubernur, menteri, anggota DPR, bahkan seorang presiden, akan disambut dengan penuh kesungguhan.

Jika terhadap panggilan manusia saja, kita bersungguh-sungguh menyambutnya. Lalu bagaimana jika yang memanggil adalah Allah? Dia Pencipta langit dan bumi, pemilik alam semesta, pengatur alam seluruhnya, pemberi kehidupan, penentu kematian, kerajaan-Nya meliputi seluruh langit dan bumi, di Tangan-Nya ditentukan nasib setiap walikota, bupati, menteri, gubernur, presiden, jendral-jendral, George Bush, Vladimir Putin, Hitler, Napoleon, Jengis Khan, Kaisar Nero, Kisra Persi, Fir’aun, Hamman, dan sebagainya. Kira-kira, bagaimana respon kita ketika dipanggil oleh Allah?

Umumnya manusia sangat bersungguh-sungguh menyambut panggilan para pejabat yang mulia. Tetapi mereka tidak serius ketika menyambut panggilan Allah. “Para pejabat kan jelas orangnya, jelas pengaruhnya, dan bisa ngasih kita duit, kalau hatinya suka ke kita. Sementara Allah tidak terlihat, jadi bagaimana akan serius menyambut panggilan-Nya?” begitu alasan di hati mereka, meskipun lisan tidak berani mengucapkannya.

Para Shahabat radhiyallahu ‘anhum kalau mendengar panggilan Allah, mereka segera berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (kami sambut panggilan-Mu ya Allah). Begitu pula kalau mereka dipanggil oleh Rasulullah, mereka menjawab, “Labbaik ya Rasulallah!” Mereka meninggikan panggilan Allah dan Rasul-Nya di atas semua panggilan yang lainnya.

Alladzina amanu

Artinya: “Orang-orang yang beriman.” Sebenarnya lebih tepat disebut: “Orang-orang yang telah mengimani.” Kata ‘amanu’ adalah fi’il madhi, kata kerja yang telah lalu; jadi lebih tepat disebut “telah mengimani”. Kalau subyeknya tunggal, menjadi ‘amana’.

Dalam Al Qur’an sangat sering dipakai perkataan, “Ya aiyuhal ladzina amanu”. Orang-orang beriman selalu disebut secara jama’ (kolektif). Tidak pernah sekali pun Al Qur’an mengatakan, “Ya aiyuhal mukmin” (wahai seorang Mukmin). Atau tidak pernah dikatakan, “Ya aiyuhal ladzi amana” (wahai satu orang yang mengimani). Selalu dikatakan, “Ya aiyuhal ladzina amanuu” (wahai orang-orang yang beriman). Hal ini mengandung hikmah, bahwa din Islam adalah agama kolektif, agama kebersamaan, bukan agama individu, bukan agama egoisme, bukan agama ta’ashub golongan. Ummat Islam adalah Ummatan Wahidatan (Ummat yang satu), bukan Ummat yang terpecah-belah, atau tersegmentasi menjadi berbagai golongan.

Banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk bersatu padu, menjalin Ukhuwwah Islamiyyah, tidak berpecah-belah dalam agama. Salah satu yang sering dibahas, adalah wasiat Allah kepada para Nabi-nabi dan juga kepada Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam. Bunyi wasiatnya, “An aqimud din wa laa tatafarraquu fihi” (tegakkanlah agama ini dan janganlah kalian berpecah-belah di dalamnya. As Syuraa: 13).

Sebagian kaum Muslimin ada yang berdakwah dengan membawakan “hadits 73 golongan”. Ummat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 golongan masuk neraka, dan 1 golongan selamat. Hadits ini sangat masyhur, tetapi cara memahaminya seringkali salah. Sebenarnya, hadits itu bermakna khabar (berita), bahwa Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam mengabarkan, kelak Ummatnya akan berpecah-belah demikian-demikian. Namun oleh sebagian orang, hadits itu justru dipahami sebagai perintah untuk berpecah-belah, menghancurkan persatuan Islam, mengobarkan pertikaian di antara sesama Muslim, terus kembangkan permusuhan dalam diri Ummat. Cara mereka berdakwah mencerminkan pemahaman mereka. Makna hadits itu adalah khabar tentang perpecahan, tetapi aplikasinya justru membuat perpecahan sebanyak-banyaknya. Padahal agama para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam ditegakkan di atas manhaj persatuan, tetapi mereka malah bersuka ria di atas perpecahan. Dari sisi sudah tampak kesesatan jalan itu. Na’udzubillah wa na’udzubillah.

Siapapun yang membangun agamanya di atas individualisme, egoisme, fanatik golongan, dan tidak kembali kepada asas semula, yaitu persatuan di antara kaum Muslimin, mereka akan tersesat dan dikalahkan. Lihat saja, dalam Al Qur’an Allah selalu memanggil Ummat Islam dengan “Ya aiyuhal ladzina amanuu” (wahai orang-orang yang beriman), bukan “Ya aiyuhal ladzi amana” (wahai satu orang yang beriman). Pemahaman di atas semangat perpecahan itu pasti tidak akan matching dengan konsep dasar agama ini, selamanya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dalam sebagian literatur disebutkan, bahwa perintah Shiyam Ramadhan pertama kali turun pada tahun 2 Hijriyah. Dalam masa 13 tahun Ummat Islam di Makkah, perintah Shiyam Ramadhan belum diturunkan.

Pada dasarnya, perintah Shiyam Ramadhan menuntut landasan keimanan, sebab kewajiban ini memang tidak ringan. Dalam Rukun Islam, Shiyam Ramadhan menempati posisi ke-4 setelah Syahadat, Shalat, dan Zakat. Tidak dibenarkan seseorang menjalankan Shiyam Ramadhan secara penuh, tetapi dirinya sendiri meninggalkan Shalat Lima Waktu dan kewajiban Zakat. Kecuali bagi anak-anak yang baru belajar puasa, sekedar berlatih menahan makan dan minum.

Kutiba ‘alaikum

Artinya: “Telah diwajibkan atas kalian.” Arti asal dari kata ‘kutiba’ sebenarnya: Telah dituliskan! Dari kata ka-ta-ba yang berarti menulis. Kutiba adalah bentuk pasif dari kata ka-ta-ba, sehingga maknanya ‘dituliskan’. (Kalau dalam bahasa Indonesia, kutiba = aku datang. Sekedar humor!).

Para ahli tafsir telah sepakat, bahwa kata ‘kutiba’ artinya adalah diwajibkan atau difardhukan. Sebagai ibadah wajib, sebagaimana rumus umumnya, jika dikerjakan mendapat pahala besar, jika ditinggalkan berdosa. Shiyam Ramadhan adalah fardhu ‘ain bagi setiap Muslim yang mampu mengerjakannya.

Ada beberapa ayat dalam Surat Al Baqarah yang mirip bentuk kalimatnya dengan ayat Shaum ini. Dalam ayat 178 disebutkan: Kutiba ‘alaikumul qishash fil qatla (diwajibkan atas kalian al qishash dalam pembunuhan); dalam ayat 180: Kutiba ‘alaikum idza hadhara ahadakumul mautu in taraka khaira, al washiyah [diwajibkan atas kalian jika datang (tanda-tanda) kematian kepada salah satu dari kalian, yaitu menyampaikan washiyat, jika dia meninggalkan suatu kebaikan (harta benda yang banyak)]; dalam ayat 216: Kutiba ‘alaikumul qitalu wa huwa kurhul lakum (diwajibkan atas kalian berperang, sedangkan berperang itu tidak kalian sukai). Bahkan sejatinya, dalam ayat-ayat Surat Al Baqarah ini adalah “rangkaian kutiba”, sebab berturut-turut disebutkan ayat-ayat tentang kewajiban, meskipun terpisah oleh beberapa ayat lainnya. Ayat Shaum termasuk di dalamnya (ayat 183). Singkat kata, kutiba itu artinya diwajibkan/difardhukan.

Adapun kalimat ‘alaikum kembali kepada orang-orang beriman.

As shiyaamu

As shiyamu adalah bentuk jama’ (plural) dari kata as shaumu. Dalam ayat di atas digunakan kata as shiyamu, bukan shaumu. Memang di bulan Ramadhan terdapat banyak puasa, Ummat Islam berpuasa sebulan penuh, bukan hanya sehari puasa; dan yang berpuasa itu seluruh kaum Muslimin di muka bumi, bukan hanya satu dua orang, atau sekelompok orang saja.

Kata shaum menurut para ulama maknanya al imsak (menahan diri). Hal ini sama dengan istilah waktu imsak yang sering kita dengar, yaitu waktu 10 atau 15 menit menahan makan-minum sebelum adzan Shubuh. Sama-sama memakai kata al imsak yang berarti menahan diri.

Kemudian coba perhatikan lagi, ayat tersebut berbunyi, “Kutiba ‘alaikumus shiyamu”, bukan “Kutiba ‘alaikum shiyamun”. Sebelum kata shiyamu terdapat alif-lam. Hal ini disebut ismun ma’rifah, yaitu kata benda yang bersifat tertentu. Kalau disebut “as shiyamu” maka puasa yang dimaksud sudah tertentu, sudah dimaklumi, jelas maksudnya. Tetapi kalau “shiyamun”, maka puasa itu bersifat umum, general, puasa apa saja, baik di bulan Ramadhan atau di luarnya. Maka alif-lam pada “as shiyamu” itu artinya adalah puasa tertentu, sudah pasti maksudnya, sudah nyata diferensiasinya, yaitu: Puasa di bulan Ramadhan. Singkat kata, puasa yang diwajibkan kepada orang-orang beriman ialah puasa di bulan Ramadhan, bukan selainnya.

Memang, selain puasa Ramadhan ada juga puasa yang diwajibkan, yaitu: Puasa qadha untuk mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan; dan puasa nadzar. Misalnya ada seseorang yang nadzar akan berpuasa 7 hari jika lulus ujian, maka dia wajib menunaikan puasa itu, tidak boleh ditinggalkan.

Kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum

Artinya, “Seperti yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian.” Kewajiban puasa bukan hanya ditetapkan atas kaum Muslimin, tetapi juga atas kaum-kaum terdahulu. Hal ini mengandung makna, bahwa kewajiban puasa bersifat universal terhadap orang-orang beriman di setiap jaman.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan: “Dan telah diriwayatkan bahwa as shiyam ini pada mulanya (pada awal Islam) seperti keadaan pada Ummat-ummat sebelum kita, yaitu tiga hari puasa setiap bulannya. Dari Mu’adz, Ibnu Mas’ud, dan Ibnu Abbas, dari Atha’, Qatadah dan Dhahak, dari Muzahim dan dia menambahkan: ‘Tidak berhenti kewajiban ini (puasa setiap bulan 3 hari) sejak jamannya Nuh ‘alaihissalam sampai Allah menghapuskan hal itu dengan shaum di bulan Ramadhan.”

Di jaman awal Islam, perintah puasa ialah 3 hari setiap bulan. Kewajiban shiyam Ummat-ummat terdahulu juga seperti itu. Dalam riwayat dikatakan, Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash Ra. telah bersumpah dirinya akan puasa setiap hari dan bangun sepanjang malam. Ketika mendengar hal itu, Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam menasehati Abdullah, “Dan sesungguhnya cukup bagimu untuk berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, karena sesungguhnya bagimu (dan bagi Ummat Islam seluruhnya) setiap kebaikan itu dilipat-gandakan sepuluh kali, maka (jika setiap bulan puasa tiga hari) yang demikian itu sama dengan puasa setahun penuh.” (HR. Bukhari-Muslim). Penjelasannya: 1 kebaikan dilipatgandakan 10 kali; 1 hari puasa sama dengan 10 hari puasa; 3 hari puasa sama dengan puasa 30 hari (sebulan); kalau setiap bulan kontinue puasa 3 hari, otomatis telah puasa setahun penuh.

Kewajiban puasa bukan hanya bagi Ummat Islam, tetapi juga Ummat-ummat terdahulu. Hal ini mengandung hikmah, bahwa beban yang kita tanggung dalam puasa bersifat universal, dipikulkan kepada semua pundak orang-orang beriman di setiap jaman dan generasi. Bahkan sampai saat ini kaum Nashrani dan Yahudi pun masih menunaikan puasa, terlepas perbedaan tatacara berpuasanya. Hingga di antara mereka ada yang sungguh-sungguh menunaikan puasa.

La’allakum tattaquun

Artinya, “Agar kalian bertaqwa.” Kalimat yang digunakan “La’allakum tattaqun” (agar kalian senantiasa berbuat takwa) bukan “La’alla an takunal muttaqun” (agar kalian menjadi orang yang bertakwa). Mungkin maknanya, ketakwaan itu merupakan perbuatan yang ditunaikan secara terus-menerus, tanpa mengenal istilah akhir. Bukan setelah seseorang meraih gelar Muttaqun (orang bertakwa), lalu dia meninggalkan perbuatan takwa. Seperti seseorang yang terus belajar tanpa henti, tidak mengenal istilah tamat dalam belajar. Tetapi ada juga para sarjana yang seketika berhenti belajar, setelah meraih gelar sarjana.

Taqwa menurut pengertian yang populer ialah: “Mengerjakan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.” Takwa dengan pengertian seperti ini tidak akan mampu dikerjakan oleh siapapun, selain hanya oleh Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam.

Kata taqwa berasal dari taqa, yang artinya takut. Bahkan kata ‘takut’ dalam bahasa Indonesia sebenarnya adalah serapan dari kata ‘taqa’ ini. Takwallah artinya adalah takut kepada Allah. Seseorang disebut takwa jika mau mengerjakan perintah-perintah Allah karena takut berdosa jika tidak mengerjakannya; dan mau menjauhi larangan-larangan Allah, karena takut berdosa dengan mengerjakannya. Perintah dikerjakan karena takut kepada Allah; larangan dijauhi juga karena takut kepada Allah. Itulah taqwa.

Kata “la’allakum” merupakan jaminan bahwa puasa yang kita tunaikan di bulan Ramadhan benar-benar akan menghasilkan karakter takwa. Pihak yang menjamin kepastian hasil itu adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri. Pertanyaannya, mengapa setelah Ummat Islam banyak berpuasa, mereka tidak kunjung bertakwa? Tentunya, puasa yang berkualitas yang akan menuntun ke arah terbentuknya karakter takwa itu. Ia seperti riwayat yang disebutkan, “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari-Muslim). Puasa yang didasari iman dan kesungguhan itulah yang diharapkan akan membentuk karakter insan bertakwa.

Taqwa sendiri sangat banyak keutamaannya. Dalam Surat At Thalaaq ayat 2-4, disebutkan 3 keutamaan takwa, yaitu: (1) Diberi jalan keluar dari kesulitannya; (2) Diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka; (3) Diberi kemudahan dalam setiap urusan.

Shaum Ramadhan merupakan wahana yang disediakan oleh Allah untuk memperbaiki keadaan ruhiyah manusia di muka bumi. Seharusnya, setelah shiyam Ramadahan, para sha’imin dan sha’imat meraih karakter takwa, sehingga hidupnya dipenuhi kebaikan-kebaikan. Tetapi jika telah berlalu bulan Ramdahan setiap tahun, namun perubahan baik belum juga terjadi, berarti kualitas shiyam yang kita jalani masih jauh dari harapan. Ia baru shiyam dalam makna sebagai tradisi/kebiasaan, bukan sebuah thariqah (jalan) untuk meraih ridha-Nya.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperbaiki keadaan kaum Muslimin, menolong mereka dalam menunaikan ibadah Ramadhan, memberi kemudahan urusan, memberi kelapangan rizki, dan menganugerahkan perbaikan hidup secara hakiki. Amin Allahumma amin.

Wallahu a’lam bisshawaab.

One comment on “Shaum Ramadhan

  1. Ping-balik: Shaum Karena Iman dan Ikhlas « secerahpewarna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 11, 2012 by in Artikel, Islami and tagged , , , , , , .

free counters

Temukan kami di Facebook

%d blogger menyukai ini: