secerahpewarna

Belajar dan terus Belajar

Wasiat Sufyan Ats-Tsauri Kepada Abbad bin Abbad Al-Khawwash Al-Arsufi

Wasiat Sufyan Ats-Tsauri Kepada

Abbad bin Abbad Al-Khawwash Al-Arsufi

 Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah[1] menulis surat kepada Abbad bin Abbad Al-Khawwash. Dalam suratnya, Sufyan Ats-Tsauri berkata,

 “Amma ba’du.

Ketahuliah, bahwa sekarang ini engkau berada di zaman di mana sebelumnya para sahabat. Rasulullah Saw meminta perlindungan dari berada pada zaman tersebut. Mereka mempunyai ilmu yang tidak kita miliki, dan mempunyai keberanian yang tidak kita miliki. Maka bagaimana jika kita berada pada zaman tersebut, sementara kita hanya bermodalkan ilmu yang pas-pasan, sedikit kesabaran, sedikit pendukung dalam kebaikan, manusia sedang rusak berat, dan dunia sedang keruh?

Hendaklah engkau berpegang teguh kepada ilmu, dan merahasiakan diri, karena sekarang zamannya merahasiakan diri.[2] Hendaklah engkauu melakukan uzlah (isolasi diri), dan tidak banyak bergaul dengan manusia. Sebelum ini, jika manusia bertemu, maka sebagian dari mereka mendapatkan manfaat dari sebagian yang lain. Sedang zaman kita sekarang, itu semua tidak ada lagi, dan menurut pendapatku jalam keselamatan ialah dengan tidak bergaul dengan mereka.[3]

Engkau jangan mendekat kepada penguasa dan menjalin hubungan dengan mereka dalam urusan apa pun. Jangan tertipu, kemudian dikatakan kepadamu. “Belalah! Lindungi orang yang teraniaya dan kembalikan barang yang diambil dengan tidak hak!” Karena itu semua adalah tipuan iblis yang dijadikan sebagai tangga oleh para ulama yang bejat.[4]

Dulu pernah dikatakan, “Takutlah fitnah ahli ibadah yang bodoh, dan orang berilmu yang berdosa, karena fitnah keduanya adalah fitnah bagi siapa saja yang terkena fitnah.

Jika engkau mendapatkan permasalahan dan fatwa, maka manfaatkan baik-baik, dan jangan bersaing dengan manusia didalamnya!

Janganlah engkau menjadi seperti orang yang ingin ucapannya diamalkan, ucapannya disebarluaskan, dan ucapannya didengar. Jika itu semua tidak dilakukan, maka membekas dalam dirinya.[5]

Jangan berambisi kepada jabatan, karena jika seseorang lebih mencintai jabatan daripada emas dan perak, karena jabatan tersebut adalah pintu yang tidak jelas yang tidak bias diketahui kecuali oleh para ulama.

Periksalah dirimu dan beramallah sesuai dengan niatnya ketahuilah, bahwa telah mendekat kepada manusia sesuatu di mana seseorang ingin mati kerenanya. Was Salam (Diriwayatkan Abu Nu’aim).


[1] Nama lengkapnya ialah Sufyan bin Sa’id bin Masruq Ats-Tsauri. Ia di-nasabkan kepada Tsaur bin Abdu Manaf dan bukannya Tsaur Hamdan. Sufyan Ats-Tsaur termasuk gudangnya ilmu dan gunung hapalan ilmu. Jika deretan ulama disebut, maka Sufyan Ats-Tsauri adalah bintangnya yang berkemilau.
Biografi tentang Sufyan Ats-Tsauri banyak sekali ditemui dalam buku-buku tentang al-jarhu wa at-Ta’dil, sejarah, dan fiqh. Diantara buku-buku yang memuat biografi tentang Sufyan Ats-Tsauri dengan lengkap ialah Tahdzibu Al-Kamal jilid XI hal. 154, Ath-Thabaqatu Al-Kubra jilid VI hal. 371, Tarikhu Baghdad jilid IX hal. 151, dan Siyaru A’laami An-Nubala jilid VII hal. 144.
[2] Ar-Rajulu Al-Khamilu ialah orang yang tidak diingat dan tidak dikenal. Itulah bukti ketakwaan dan kebaikan, karena orang-orang yang ikhlas itu selalu takut riya’. Oleh karena itu, mereka berusaha keras tidak menipu manusia, karena mereka tidak ingin amal-amal shalihnya dilihat. Orang yang ikhlas tersebut berusaha sekuat tenaga merahasiakan amal-amal shalih melebihi upaya manusia dalam merahasiakan kejahatan-kejahatannya. Dengan cara seperti mereka berharap kiranya amal perbuatan mereka menjadi ikhlas, dan Allah Swt memberi mereka pahala pada hari kiamat kelak. Orang-orang baik itu tidak menginginkan popularitas, dan tidak mendekati sebab-sebabnya, serta mereka lebih suka tidak terkenal, karena keterkenalan itu membuat orang tertipu.
Muslim meriwayatkan dan Al-Baghawi dalam Syarhu As-Sunnah jilid XV hal 21-22 hadits dari Amir bin Sa’ad bin Abu Waqqash bahwa Sa’ad bin Abu Waqqash suatu ketika sedang berada di unta-untanya dan kambing-kambingnya, tiba-tiba anaknya yang bernama Umar dating kepadanya. Melihat kedatangan Umar, Sa’ad bin Abu Waqqash berkata “Aku berlindung diri kepada Allah dari keburukan pengembara ini”. Ketika Umar tiba di tempat Sa’ad bin Abu Waqqash, ia berkata, “Ayah, apakah engkau lebih senang menjadi orang Arab dusun dengan unta-unta dan kambing-kambing ini, padahal orang-orang di kota sedang berebut kekuasaan?.
Sa’ad bin Abu Waqqash menepuk dadanya kemudian berkata, “Diam engkau anakku, karena aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, bersih, dan tersembunyi (tidak terkenal).
Jadi yang dimaksud oleh Sufyan dengan menyembunyikan diri ialah menyembunyikan amal perbuatan dan yang dimaksudkan bukan lemah. Oleh karena itu, hati-hatilah terhadap sifat lemah dan jangan sekali-kali engkau termasuk orang-orang pemalas dan orang-orang lemah. Hal ini didukung dua hal :
Pertama, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Orang Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang Mukmin yang lemah.
Kedua, diriwayatkan bahwa Rasulullah berlindung diri kepada Allah dari sifat lemah dan malas. 
[3] Yang dimaksud dengan uzlah disini ialah sedikit bergaul dengan manusia, karena pergaulan dengan mereka tidak banyak mendatangkan manfaat, dan bukan uzlah dengan arti tidak bergaul dengan manusia secara total. Jika uzlah total dilakukan para da’i, maka kapan orang bodoh bias belajar? Orang tersesat bias mendapatkan petunjuk? Dan orang dzalim kembali kepada dirinya?. 
[4] Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata, “Dia antara tipu melihat iblis terhadap ulama, ialah mereka bergaul dengan para penguasa, bermain mata dengan mereka, dan tidak melarang mereka dari kemungkaran, padahal mereka mampu melakukannya.
Bahkan, tidak tertutup kemungkinan para ulama tersebut member dispensasi kepada para amir atau sultan dalam masalah-masalah yang sesungguhnya mereka tidak berhak mendapatkan dispensasi, itu mereka lakukan dalam rangka mendapatkan dunia. Tindakan mereka tersebut merusak tiga pihak sekaligus;
Pertama, penguasa. Ia berkata. “Jika aku tidak benar, pasti ulama telah menegurku. Bagaimana aku tidak benar, padahal ia makan dari hartaku?”
Kedua, orang awam. Ia berkata. “Tidak ada masalah dengan penguasa tersebut. Juga terhadap harta dan tindakannya. Karena ulama si fulan tersebut tidak pernah beranjak dari padanya.”
Ketiga, ulama. Ia merusak agamanya dengan tindakannya tersebut.
Sungguh iblis menipu mereka dengan menyuruh mereka masuk menemui penguasa kemudian ia berkata, “Kami masuk menemuinya untuk membela hak seorang Muslim.”
Tipu muslihat ini terbongkar jika ada pihak lain masuk menemui penguasa tersebut untuk urusan yang sama. Pasti ia kaget, dan bias jadi mengecam orang tersebut karena bias bertemu dengan penguasa untuk urusan yang sama.
Kesimpulannya, bahwa masuk menemui para penguasa adalah membahayakan, karena bias jadi pada awalnya niat tetap baik kemudian berubah total karena jamuan para penguasa, atau karena ia sendiri berambisi terhadap penguasa.
Sufyan Ats-Tsauri, “Aku tidak takut mereka menghinaku. Tapi aku takut jika mereka memuliakan. Kemudian hatiku condong kepada mereka.”
Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbal berkata dalam syarah hadits Maa dzibaani jal’ani hal. 53.
“Banyak sekali generasi salaf melarang menemui para penguasa, termasuk orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar.” Di antara mereka yang melarang hal tersebut ialah Umar bin Abdul Aziz, Ibnu Al-Mubarak, Ats-Tsauri, dan lain sebagainya. Ibnu Al-Mubarak berkata.
Sebab dari ini semua ialah jika seseorang berada di tempat yang jauh dari penguasa, maka ia melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar terhadap mereka, serta ia mengkritik mereka. Namun jika ia berdekatan dengan mereka, maka jiwanya cenderung kepada mereka. Karena cinta kehormatan telah terpendam dalam dirinya. Oleh karena itu. Ia bermain mata dengan mereka, bersikap lemah lembut terhadap mereka, dan tidak tertutup kemungkinan ia cenderung kepada mereka serta mencintai mereka jjika mereka berkata lemah lembut terhadapnya, dan memuliakannya. Hal tersebut pernah dilakukan Abdullah bin Thawus terhadap sebagian ulama dengan dihadiri ayahnta, kemudian ayahnya, Thawus memarahi Abdullah bin Thawus atas tindakannya tersebut. Sufyan Ats-tsauri menulis surat kepada Abbad bin Abbad dan dalam hubungan dengan mereka dalam urusan apapun. Dan seterusnya.”
Ulama Andalusia. Ibnu Abdul Barr berkata dalam bukunya Jami’ul Bayan Al-Ilmu jilid I hal. 185-186 tentang ketidaksetujuan generasi salaf terhadap masuk menemui para penguasa
“Larangan tersebut ialah kepada para penguasa yang tiranik, dan fasik. Adapun terhadap penguasa yang adil, maka masuk menemuinya, melihatnya, dan membantunya dalam kebaikan adalah termasuk perbuatan yang luhur. Tidaklah anda lihat bahwa Umar bin Abdul Aziz dikelilingin sejumlah ulama yang mulia seperti Urwah bin Az-Zubair. Ibnu Syihab dan lain sebagainya.”
Ibnu Syihab pernah masuk menemui sultan Abdul Malik, dan anak-anaknya sesudahnya.
Di antara ulama-ulama yang pernah masuk menemui para penguasa ialah Asy-Sya’bi, Qabishah, Ibnu Dzuaib, Raja’ bin Haiwah Al-Kindi, Abu Al-Miqdam, Al-Hasan, Abu Az-Zannad, Malik bin Anas, Al-Auza’i. Imam Syafi’I, dan lain sebagainya.
Jika seorang ulama masuk menemui penguasa sesekali saja karena adanya kebutuhan, kemudian ia berkata dengan baik dan berkata berdasarkan ilmu, maka itu baik sekali dan di dalamnya terdapat keridhaan Allah hingga ia menghadap kepada-Nya. Namun secara umum forum penguasa adalah forum fitnah dan jalan selamat ialah dengan meninggalkan forum tersebut.
Bahwa para generasi salaf tersebut berkata dengar benar, dan member nasihat. Mereka ibarat pemberi peringatan yang tidak boleh didustakan. Bagaimana mereka tidak bertindak seperti itu, undangan mereka mendengar sabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa dating kepada penguasa, ia terkena fitnah.” (Diriwayatkan Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ahmad, dan lain sebagainya dari jalur Sufyan bin Abu Musa dan Wahb bin Munabbih dari Ibnu Abbas).
Sanad hadits di atas dhaif (lemah). Karena Abu Musa tidak dikenal. Namun hadits tersebut mempunyai sanad lain menurut Al-Baihaqi dalam Syiabu Al-Iman jilid III hal. 248. Jadi hadits tersebut menjadi kuat dengan sanad terakhir. 
[5] Inilah riya’. Sebab-sebab riya’, bab-babnya, jenis-jenisnya, pengaruhnya, dan obatnya dijelaskan dalam buku yang berjudul Ar-Riya’u; Dzammhuhu wa Atsaruhu  fi Al-Ummah. Silahkan baca buku tersebut.

One comment on “Wasiat Sufyan Ats-Tsauri Kepada Abbad bin Abbad Al-Khawwash Al-Arsufi

  1. Ping-balik: Shaum Karena Iman dan Ikhlas « secerahpewarna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 30, 2012 by in Artikel, Islami and tagged , , , , .

Navigasi

free counters

Temukan kami di Facebook

%d blogger menyukai ini: